Ban: Impor Belum Tentu Lebih Baik







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

KAMI mendapati sebuah fakta mengejutkan-sebagian telah ditulis sekilas di edisi lalu, mengenai bahaya memakai ban impor. Berdasar fakta di lapangan serta perbincangan dengan ahli manufaktur ban, produk impor berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan di jalan!

Ada seorang konsumen Bridgestone – namanya dirahasiakan – yang mencak-mencak karena ban Bridgestone di Toyota Land Cruiser-nya mendadak pecah di jalan. Padahal ban masih tergolong baru dan tapaknya masih tebal. Dia bahkan sempat mengancam bakal menuntut. Namun setelah diselidiki, si konsumen itu menggunakan produk Bridgestone yang dimanufaktur di Kanada. Bahkan di dinding ban tertulis ‘For Canadian Use Only’.

Kejadian serupa juga menimpa mobil kantor milik Tony Indrastono Soekarno, direktur keuangan PT Asuransi Jiwasraya. Saat pertama kali dibeli, BMW 525i keluaran 2002 milik kantornya dilengkapi ban Pirelli P6000 225/55 R16 buatan Jerman. Baru sekitar satu tahun mobil dipakai dan tapak belum habis setengahnya, ban tiba-tiba sobek di bagian samping. “Bukan hanya mobil ini, tapi juga mobil kantor lain yang menggunakan ban sama,” ujar Tony.

Nedi Hasani dan Pairin, pengemudi di perusahaan itu bilang, mereka tahu kondisi ban saat mobil di parkir. Padahal menurut pengakuan keduanya, tak sekalipun mobil menabrak batu atau benda tajam lain di jalan. Untung saja, kedua contoh di atas tidak terjadi saat mobil dikendarai pada kecepatan tinggi. Bila sampai terjadi, kemungkinan kecelakaan tentu lebih buruk lagi. Boleh jadi ada kejadian ban impor pecah di jalan tol dan mengakibatkan kecelakaan parah, tapi fakta itu sulit kami dapat, mengingat pendataan kecelakaan di sini tidak sedetail di luar negeri. Tapi yang jelas, pecah ban menduduki peringkat nomor 1 penyebab kecelakaan di jalan tol.

Oke, di sini kita tak mau bicara panjang lebar tentang pengetahuan seputar ban. Justru yang menjadi pertanyaan, benarkah ban impor itu tak sekuat buatan lokal? Padahal dari segi harga, versi impor jelas lebih mahal.

Untuk menjawabnya, kami datang ke Karawang untuk menemui H Agus Sarsito, manajer field service engineering department PT Bridgestone Tyre Indonesia. Selain Agus amat mengerti tentang proses manufaktur ban, perusahaannya juga mengimpor produk Bridgestone ke Indonesia.

Pada saat dikonfirmasi, Agus mendukung pernyataan kalau performa ban impor bisa tak sebaik saat di pakai di negara asal nya. Malahan, dalam beberapa kasus justru ban impor berbahaya jika digunakan di negeri ini. Berdasarkan penjelasan secara teknis, diketahui kalau racikan ban di tiap negara pasti berbeda meskipun untuk produksi tipe ban yang sama. Hal itu berlaku mulai dari komposisi campuran karet, ketebalan serat baja, keempukan tapak, serta desain kembangan bannya. Bahkan, proses pemotongan lapisan karet di dalamnya juga bergantung pada peraturan lalu lintas setempat.

Untuk negara dengan setir kiri misalnya, karet akan dipotong sedemikian rupa sehingga saat berputar ban akan cenderung bergeser ke arah kiri. Itu disebabkan mobil bersetir kiri akan banyak jalan di kanan. “Nah, kecenderungan bergerak ke kiri itu untuk menetralkan setir, karena di jalur kanan biasanya jalan miring ke kanan juga,” demikian penjelasan Agus.

Namun hal tadi memang terlalu mempengaruhi keselamatan di jalan. Tapi jika sudah menyangkut faktor desain kembangan dan komposisi bahan, ceritanya jadi agak berbeda. Rata-rata ban yang diproduksi untuk pasar Indonesia memiliki kompon agak lunak. Dengan begitu, ban makin lentur sekaligus mengurangi kegetasannya di suhu panas. Kegetasan ban sungguh mempengaruhi ketahanan saat melibas jalan berkontur kasar, seperti sebagian besar jalan di sini.

Keunggulan lain, ban produksi dalam negeri itu sudah melalui proses pengetesan pada kondisi aktual jalan raya Indonesia. Bridgestone misalnya, selalu meriset produknya di test track mereka yang memiliki 8 kontur jalan berbeda. “Dari mulai tol beton hingga jalan bergelombang,” aku Agus. Hal serupa juga dikatakan Mulia Perangin-angin, General Manager Sales PT Goodyear Indonesia Tbk., saat mengunjungi pabrik Goodyear di Luksemburg, beberapa waktu lalu. “Ban untuk Indonesia, walaupun harus diapprove di Luksemburg, selalu diriset berdasarkan kondisi jalan kita dan wilayah regionalnya,” katanya.

Situasi terjepit
Di lain sisi, anggapan bahwa ban impor itu hebat, lebih banyak disandarkan pada mitos proses pabrikasi yang lebih baik di luar negeri. Itu juga tak sepenuhnya benar, karena prinsipal pasti menjaga standarisasi proses pembuatan ban di negara mana saja.

Bahkan pabrik di Indonesia pun membuat juga ban untuk keperluan pasar luar negeri. Tentu saja dengan spesifikasi berbeda dibanding kebutuhan domestik. “Tidak benar asumsi itu. Dimanapun Goodyear diproduksi, tentu telah diperhitungkan untuk wilayah mana produk itu dipasarkan. Sebab kondisi jalan dan cuaca ikut berpengaruh pada kualitas ban saat digunakan,” sambung AM Patel, Chief Customer Engineering-Asia Goodyear.

Namun konsumen kerap menghadapi situasi terjepit, ketika ia tak punya pilihan lain kecuali membeli ban impor. Biasanya terjadi jika ukuran yang diinginkan tak tersedia di sini. Misalnya ban berprofil 40 atau lebih tipis lagi. Pembuat ban nasional tak melansir ukuran itu, lantaran pasarnya dinilai terlalu kecil sehingga tak memenuhi skala ekonomi.

Untuk fenomena ini, beberapa ATPM ban ambil inisiatif mengimpor sendiri. Mereka mengklaim, kalau diimpor resmi ATPM, dipastikan komposisi dan spek ban telah dipilih yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

Apakah ini berarti Anda diharamkan membeli ban impor ? Jelas tidak. Jika beruntung, Anda bisa mendapatkan ban impor yang speknya sesuai – belum lagi, gengsi bakal terangkat karena eksklusivitasnya. Yang penting, mintalah jaminan dari si penjual kalau ban itu aman serta tahan menghadapi kondisi jalan tanah air yang bervariasi.

Selektif pilih impor
PT Goodyear Indonesia Tbk. justru melihat tak perlu pengotakan seperti itu terhadap produk ban lokal dan impor. Hal ini menilik dari metode produksi yang diterapkan, oleh pabrik yang berlokasi di Bogor, dengan regionalisasi produksi. Kata lain memanfaatkan pabrik-pabrik yang ada di region ASEAN memasok ban yang dibutuhkan di masing-masing negara.

Misalnya, Goodyear Indonesia tidak hanya memproduksi untuk keperluan dalam negeri tapi dituntut untuk memasok keperluan ban di Malaysia dan Thailand, demikian juga sebaliknya. “Kami terapkan itu karena bisa memproduksi sesuai kebutuhan. Tak perlu repot bila ada konsumen yang ternyata butuh ban yang tidak diproduksi di sini. Tinggal impor dari pabrik Goodyear lain di region ASEAN,” ungkap Iman Santoso, Public Relations Coordinator PT Goodyear Indonesia Tbk.

Mungkin bisa saja muncul kekhawatiran kasus sama. Toh, semua itu ditepis dengan menilik metode pengendalian mutu serta riset intensif yang dilakukan Goodyear. “Standar produksi kami yang global mengantisipasi anggapan itu. Lagipula kondisi Malaysia dan Thailand bisa dikatakan serupa dengan tanah air. Jadi tidak perlu khawatir timbul kendala,” imbuh Imam Purwanto selaku Technical Customer Service Manager.

Cara terbaik melihat soal ban impor itu, ada baiknya konsumen bisa selektif. Maksudnya, tidak diharamkan memilih produk impor. Paling gampang, melihat jaminan yang diberikan. Atau lihat ban itu diimpor oleh pabrikan atau bukan. “Kalau diimpor pabrikan itu dirasa lebih aman. Jelas kemana mesti mengadu bila ada persoalan,” tambah Imam Purwanto.

Ada baiknya konsumen lebih cermat mempertimbangkan saat menentukan ban impor jadi pilihan.

Sumber:
Tim AutoBild
Majalah AutoBild, Tanggal 19 Juli-1 Agustus 2003 Edisi 6

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter