Cerpen : Pujian Hujan Part 1





Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Allohumma atsqinaa ghoitsammughiitsaa…

Walaa taj’alnaa minal qoonithiin*

Kalimat pujian itu kembali mengudara sengau dari corong yang tercagak di atap seng surau lapuk kampung kecil itu. Tepatnya usai azan shalat lima waktu. Kemarau panjang benar-benar membikin warga kampung kelimpungan. Karena ladang-ladang mereka berubah mengerontang. Hingga tanah gembur yang semula subur kini meranggas. Pecah-pecah seperti usai terhempas gempa.

Hingga di suatu petang, entah siapa yang memulai, warga kampung berkumpul dan merundingkan sesuatu di rumah Pak lurah. Lantas, mereka berbondong menuju rumah Pak Kiai Karim–Kiai sepuh usia 78–guna memohon beliau agar mengumandangkan kembali pujian-pujian yang berisi doa minta hujan pada Tuhan.

Sebagaimana sebelumnya, doa-doa pujian itu diimani warga sebagai jimat mujarab yang langsung membuat Tuhan merasa trenyuh, lantas menitah sang langit agar selekasnya mencurahkan air ke area ladang-ladang gersang mereka.

“Tolong Pak Kiai, kumandangkan lagi puji-pujian itu, agar ladang-ladang warga tak lagi kering,” pinta Pak lurah dengan wajah berbias sendu. Warga memang memohon Pak lurah untuk menjadi juru bicara kesah mereka.

Pak Kiai Karim nampak manggut-manggut mendengar permohonan Pak lurah seraya mengelus-elus jenggotnya yang panjang dan sudah didominasi warna putih.

“Saya sifatnya hanya membantu dengan doa. Jika nanti dikabulkan, itu memang karena Allah yang paling tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya. Tapi, seandainya belum terkabul, kalian jangan kecewa, lantas menyalahkan-Nya. Karena Allah pasti selalu mempunyai rencana lain di balik semua keputusan-Nya.”

Wejangan Pak Kiai membuat warga kampung manggut-manggut sepenuh takzim. Entah, apakah petuah imam dan pengajar ngaji di surau lapuk di ujung kampung mereka itu benar-benar masuk ke dalam lubuk sanubari mereka. Atau hanya sekedar menelusupi telinga kanan, lalu terbirit melalui telinga kiri.

“Dan, yang harus kalian ingat, mari kita ramaikan kembali surau kita dengan pengajian, penuhi shaf-shaf shalatnya, jangan hanya karena kita sedang kesulitan saja lantas membuat kita ingat pada-Nya,” lanjut Pak Kiai.

Sebenarnya telah berkali Pak Kiai berwejang senada sebagaimana sebelumnya saat kemarau datang dan warga kampung berkumpul untuk memohon beliau agar memanjatkan pujian hujan. Namun pada kenyataannya, besok, besok dan besoknya, tetap tak ada warga yang sudi menyambangi surau.

“Iya, Pak Kiai. Kalau begitu saya permisi dulu, saya atas nama warga kampung menyampaikan beribu terima kasih karena Pak Kiai telah sudi menolong kami,” kata Pak lurah sebelum akhirnya mohon pamit.

***

Lima hari sudah, Pak Kiai Karim kembali melantunkan pujian hujan dengan suara khas seraknya. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, tak ada warga yang sudi mampir ke suraunya yang kian lapuk digerogoti rayap, karena memang tak ada warga yang terpanggil jiwa sosialnya untuk membangun atau memperbaiki surau tua itu. Bahkan sekedar ikut ngrewangi Pak Kiai membersihkan surau pun mereka enggan.

Dan lagi-lagi, yang menghidupkan surau lapuk itu hanya Pak Kiai seorang diri. Membersihkan surau sendiri. Azan dan iqamat sendiri. Menjadi imam sendiri. Tanpa ada sesiapa yang sudi berdiri di belakangnya untuk meraih pahala 27 derajat yang telah dijanjikan Allah pada setiap hamba-Nya.

Dulu, tepatnya 10 tahun silam, setiap Magrib hingga Isya, surau itu cukup ramai buat shalat berjamaah dan mengaji. Pak Kiai sama sekali tak merasa dibuat repot, apalagi mengumbar keluh. Bersebab waktu itu beliau dibantu dua putranya, Warman dan Teguh, untuk mengajari mengaji warga kampung tiap malam.

 

http://annida-online.com/artikel-5479-pujian-hujan.html

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter