Hadang Infeksi dengan ASI dan Imunisasi







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

SECARA berturut-turut Daffa, 3 tahun, mendapat vaksin polio pada usia 2 , 4, 6, dan 18 bulan di Rumah Sakit Bunda, Jakarta. Daffa tinggal mendapat satu kali lagi vaksin polio ketika nanti berusia 5 tahun. Sebab, vaksin polio diberikan dalam lima tahapan.

Sang ibu, Leni, 31 tahun, juga memenuhi empat imunisasi dasar lain bagi Daffa. Sebut saja vaksin BCG, hepatitis B, DPT, dan campak. Kelak, Leni berpikir, tak akan ada tempat lagi buat penyakit tuberkulosis, polio, maupun campak yang menimpa buah hatinya. Apalagi dia juga memenuhi 6 bulan air susu ibu (ASI) eksklusif bagi Daffa. “Saya juga memberi Daffa imunisasi tambahan hepatitis A dan influenza,” ujarnya.

Leni termasuk ibu yang tahu arti penting ASI dan imunisasi bagi tumbuh kembang anaknya. Ia sejalan dengan Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia dr Badriul Hegar, SpA(K), yang mengatakan pemberian ASI dan imunisasi adalah hal yang sangat mendasar dalam rangka menurunkan angka kematian bayi dan balita serta membasmi berbagai penyakit infeksi.

“Masalah perinatal dan infeksi masih menjadi masalah kesehatan anak Indonesia,” ujar Hegar pada acara temu media bertajuk “Air Susu Ibu dan Imunisasi untuk Anak Indonesia yang Sehat dan Berkualitas” di Hotel Sahid kemarin siang.

Karena itu, dalam kesempatan yang sama Ketua Satuan Tugas ASI IDAI Dr I G. Ayu Partiwi, SpA, menggalakkan pemberian ASI eksklusif bagi bayi-bayi Indonesia. Susu ibu, kata Partiwi, mengandung semua nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan anak.

Susu ibu memiliki zat kekebalan, seperti Imunoglobin (lg)A sekretorik, yang membuat bayi jarang mengalami infeksi pencernaan. “Bayi memperoleh nutrisi terbaik, perlindungan terhadap infeksi, dan stimulasi sejak dini dari proses menyusui,” ujar Partiwi saat presentasi. Ia juga mengingatkan, memenuhi ASI eksklusif bukan berarti anak jadi tidak sakit sama sekali, melainkan tetap mesti disambung dengan imunisasi.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI Prof Dr dr Sri Rezeki S Hadinegoro, SpA(K), mengatakan imunisasi merupakan investasi kesehatan di masa depan. Imunisasi merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit.

Anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap akan terlindung dari sejumlah penyakit berbahaya. Imunisasi akan meningkatkan kekebalan tubuh sehingga si anak mampu melawan penyakit yang bisa dicegah vaksin tersebut. “Imunisasi juga mencegah penularan penyakit kepada orang-orang di sekitarnya,” ucap Sri saat menjadi pembicara.

Dalam diskusi yang sekaligus untuk memperingati Hari Anak Nasional ini, Sri mengatakan, apabila anak tidak memperoleh imunisasi, tubuhnya tak mempunyai kekebalan terhadap mikroorganisme ganas (patogen). Bahayanya lagi, si anak yang tidak mendapat imunisasi akan menyebarkan kuman-kuman ke orang sekitarnya, sehingga dapat menimbulkan wabah yang bisa meluas ke mana-mana. “Penyakit tetap berada di lingkungan masyarakat,” Sri menjelaskan. Meski begitu, dokter berkacamata ini mengakui imunisasi punya sejumlah kekurangan. Banyak masyarakat memiliki persepsi negatif soal imunisasi.

Sebenarnya masalah tersebut bergantung pada praktek para tenaga kesehatan di lapangan. Misalnya jika vaksin tidak dikocok dengan benar, setelah disuntik malah menjadi keras. Kemudian sering terjadi kesalahan dalam menyimpan vaksin, sehingga tidak bekerja dengan efektif. Di samping itu, Sri juga menyoroti cara penyuntikkannya. Contohnya vaksin tertentu mesti disuntik di lemak atau otot, atau di intrakutannya. “Kalau orang gemuk, ketebalan kulitnya berbeda. Jadi ada yang memakai jarum suntik khusus.”

Lebih dalam, untuk anak dengan autistik sebenarnya juga harus mendapat perlakuan khusus. Tenaga kesehatan di lapangan harus melihat sejauh apa si anak menderita kelainan sarafnya. Sebab, beberapa dari mereka, setelah mendapat vaksin tertentu, mengalami demam, kemudian malah kejang. Selanjutnya, menurut Sri, apabila anak yang alergi disuntik jatuh pingsan, harus berhati-hati untuk imunisasi berikutnya.

Lebih jauh Sri memaparkan, vaksin itu berisi mikroorganisme, zat pelarut, adjuvant, pengawet, dan zat untuk mencegah infeksi. Perlu perhatian pada penyimpanan, cara pemberian, dosis, jadwal, serta pencatatan dan pelaporan efek samping. Dalam hal ini, sebetulnya pemerintah sudah memberi panduan dan telah diketahui oleh semua petugas di lapangan. Vaksin baru (modern) pun pada umumnya lebih baik mutunya dalam menghasilkan antibodi dan lebih aman.

Bagaimanapun, setelah diberi imunisasi, si anak tetap masih mungkin terkena penyakit, meski jauh lebih ringan. Sejumlah literatur menunjukkan, kemungkinan serangan penyakit pada anak yang diberi imunisasi hanya 5-15 persen. Adapun efektivitas imunisasi sekitar 80-95 persen. Tetapi yang jelas, pemberian vaksin adalah upaya perlindungan terhadap bayi dan balita Indonesia agar memperoleh potensi hidup yang optimal. “Jumlah anak Indonesia sekitar 30 persen dari jumlah penduduk saat ini,” Hegar menjelaskan.

Manfaat ASI dan Imunisasi bagi Anak
ASI mengurangi risiko alergi dan infeksi lambung, usus, serta sembelit.

ASI memiliki kekebalan lebih tinggi terhadap penyakit. Misalnya jika si ibu sudah pernah terkena campak, antibodi sang ibu terhadap penyakit tersebut diteruskan kepada bayi melalui ASI.

Bayi dengan ASI lebih bisa menghadapi efek kuning. Dengan imunisasi, bayi dan anak membentuk kekebalan melalui pertahanan nonspesifik dan spesifik.

Imunisasi meniru kejadian infeksi alami. Imunisasi diperlukan untuk mencegah penyakit yang menyebabkan kematian dan cacat tubuh. (Heru Triyono)

Sumber : tempointeraktif.com

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter