Hidung Belang dan Doyan Kawin







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Dalam menjalani hidup kita sehari-hari, terkadang ada kisah-kisah yang membuat kita geleng-geleng kepala atau bahkan tercengang. Dan dari sekian banyak kisah-kisah yang ada, kisah keluarga dengan jumlah anak yang banyak adalah salah satu kisah kehidupan yang berulang kali membuat saya geleng-geleng kepala. Entah itu karena takjub, tidak habis pikir, atau karena pemahaman saya yang dangkal.

Saya tidak akan mempermasalahkan mereka yang punya banyak anak selama mereka bertanggung jawab atas kemaslahatan anak-anaknya. Terlepas dari kemampuan finansial dan kondisi ekonomi yang bersangkutan, selama kedua orang-tua dari anak-anak tersebut terus berusaha, saya meyakini, selama itu pula Allah akan menjamin rizkinya.

 

Yang membuat saya geleng-geleng kepala dan tidak habis pikir adalah mereka, para lelaki, yang mempunyai banyak anak hasil dari kelakuan serampangan dengan menebar benih di mana-mana. Bahkan tidak jarang mereka berbohong atau menutup-nutupi fakta untuk bisa menyalurkan keinginannya bersama wanita baru. Baik itu dengan cara menikahi atau lainnya.

Berlatar belakang pemahaman yang rendah membuat sang wanita mudah untuk dikelabui. Terlebih lagi apabila sang wanita juga dalam kondisi ekonomi yang sulit. Prospek seorang lelaki mau menikahi dan menafkahi dirinya akan tampak sebagai pilihan tepat untuk bisa cepat keluar dari jeratan ekonomi. Apalagi dengan dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya yang seolah “mendorong” seorang wanita untuk cepat-cepat menikah. Maka tidak aneh apabila kombinasi dari ketiga faktor tadi terdapat pada seorang wanita, maka dirinya akan menjadi sasaran empuk para lelaki hidung belang yang doyan kawin.

Saya terus terang tidak habis pikir dengan jalan pikiran para lelaki hidung belang yang doyan kawin. Sepertinya mereka begitu mudah mengumbar janji, menikahi, dan punya kepercayaan diri bahwa dia bisa menafkahi isteri-isterinya dengan baik. Padahal sering ditemui kejadian di mana lelaki hidung belang malah menyakiti isteri-isterinya baik secara bathin maupun fisik. Dan yang lebih menyedihkan lagi, para wanita yang terlibat dan akhirnya mejadi korban biasanya tidak bisa berbuat banyak dan lebih memilih pasrah. “Walau suka disakiti, paling tidak tidak kelaparan dan masih bisa beli susu untuk anak”, mungkin itu yang diucapkan oleh para korban.

Lebih jauh, saya merasa ada hubungan sebab-akibat antara ulah para lelaki hidung belang yang doyan kawin dengan persepsi negatif masyarakat terhadap poligami. Karena tingkah laku mereka yang sering kali serampangan, akhirnya terbentuk persepsi bahwa poligami merupakan landasan legitimasi kaum lelaki untuk mengumbar syahwatnya dan ini berujung pada penentangan terhadap Al-Quran. Maka selanjutnya adalah munculnya reaksi-reaksi yang secara tidak adil menilai dan memposisikan Islam sebagai agama yang memperbolehkan “penindasan” terhadap kaum perempuan.

Dilemanya adalah, tindakan lelaki hidung belang yang menikahi seorang wanita bukanlah sebuah tindakan yang melanggar hukum. Oleh karenanya, yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan memberikan pemahaman kepada kaum perempuan dan keluarganya untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi lamaran seorang laki-laki. Apalagi jika baru dikenal. Karena banyak kasus di mana seorang wanita dari kelompok ekonomi lemah “terbuai” dengan lelaki yang baru dikenal dan dengan begitu mudahnya menerima lamarannya. Terlebih bila pihak keluarga sang wanita juga mendorong untuk itu. Padahal menurut saya ini lebih dikarenakan oleh pemikiran untuk bisa cepat-cepat keluar dari kesulitan ekonomi.

Selain itu, pemahaman juga perlu diberikan kepada para ayah yang berperan sebagai wali. Saya tahu ada Hadist yang mengatakan bahwa apabila seorang wanita ditanya tentang lamaran seorang lelaki kepadanya, dan sang wanita menjawab dengan diam, maka itu dianggap sebagai sebuah persetujuan. Tetapi melihat berbagai kasus yang terjadi, saya rasa tidak ada salahnya menunggu sang wanita untuk benar-benar menjawab, “Iya” atau “Tidak”. Sehingga semuanya jadi benar-benar jelas. Tujuannya tidak lain adalah untuk melindungi sang wanita dari keputusan gegabah wali atau keluarganya. Saya meyakini, walau berperan sebagai wali sekalipun, seorang ayah tidak bisa memaksa anak perempuannya untuk menerima sebuah lamaran pernikahan. Dan sebagai seorang wali, seorang ayah juga berkewajiban untuk melakukan due-diligence, dengan mempelajari lebih jauh siapa sebenarnya lelaki yang melamar anak perempuannya.

Lelaki hidung belang yang doyan kawin adalah para lelaki yang mengumbar nafsunya untuk mencari kepuasan sesaat. Celakanya lelaki hidung belang suka menggunakan alasan poligami untuk bisa menikahi wanita-wanita yang disukainya. Akibat dari tindakannya itu maka terbentuk persepsi negatif tentang legalitas poligami dalam Islam. Lebih jauh, lelaki hidung belang yang doyan kawin juga tidak sedikit yang malah menyakiti wanita-wanita yang dinikahinya. Sedangkan para wanita yang menjadi korban biasanya tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah merasa “terselamatkan” dari kesulitan ekonomi yang dialami diri dan keluarganya.

Adalah memberikan pemahaman yang lebih baik kepada wanita dan keluarga tentang pentingnya untuk mengambil sikap berhati-hati. Karena apapun alasannya, lelaki hidung belang harus diwaspadai kehadiran dan prilakunya. Tidak lain untuk melindungi para wanita dari perbuatan yang bisa menyakiti mereka di kemudian hari.

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter