

Sejak lahir, Memed menjadi seorang yang buta atau tuna netra. Namun, ia tetap menjalani hari-harinya secara optimis, semangat dan bahagia. Ia juga selalu yakin bahwa cobaan adalah salah satu bentuk kasih sayang Tuhan. Hari itu, salah seorang rekannya yang bernama Dolla datang kepadanya. Ia bercerita bahwa ia mulai ragu kalau Tuhan itu ada. Katanya, “Kalau Tuhan ada, kenapa Dia tak tampak? Kenapa Dia tak terlihat olehku?”
Mendengar itu, Memed bertanya balik pada Dolla, “Bisakah kau menjelaskan warna hitam kepadaku?”. “Oh, tentu saja bisa,” kata Dollah. “Hitam itu warna yang engkau lihat setiap saat itu, warna yang sebagaimana aku lihat saat aku memejamkan mataku.”
Memed menimpal, “Lah, aku ini buta, tak melihat apa-apa. Bagaimana bisa kau bilang hitam itu warna yang kulihat?” Dolla menjaab, “Ya, memang itulah hitam. Karena kau buta, maka kau tak menyadari bahwa setiap saat yang kau lihat adalh hitam.”
Memed ‘pun berkata, “Ya, seperti itulah Tuhan. Dia di mana-mana dan tak pernah absen dari pandanganmu. Namun, kau tak menyadarinya, karena Dia hanya satu. Seperti hitam bagiku yang buta ini. Hanya satu, yakni hitam yang tiap saat aku lihat. Sehingga, aku tak menyadari kalau yang kulihat tiap saat adalah hitam.” Memed menutup penjelasannya dengan berkata, “Sulitnya menjelaskan Tuhan pada manusia, sama dengan sulitnya menjelaskan warna hitam pada seorang yang buta.”
http://mizan.com/news_det/humor-sufi-jika-tuhan-ada-kenapa-tak-terlihat.html










Kategori : 

















