Kedekatan kepada Allah Swt sebagai Sumber Kebahagiaan





Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Bagaimana bisa? Kenapa untuk bahagia manusia harus dekat kepada Allah SWT? Pertama, persoalan agama merupakan persoalan yang sudah menjadi concern manusia sejak orang-orang yang pertama kali hidup di alam ini sampai sekarang. William James, filosof Amerika sekaligus tokoh psikologi modern aliran pragmatisme, menulis sebuah buku berjudul The Varietes of Religious Experience pada tahun 1904., lebih dari 1 milenium lalu. Tapi siapa pun yang ingin tahu tentang kecenderungan makhluk manusia kepada agama dan spiritualiatas tidak bisa tidak harus membaca buku ini.

Meskipun setelah itu banyak buku terbit dengan soal yang sama, tapi buku William James belum tergantikan karena ia merekam pengalaman keberagamaan orang-orang dari zaman yang paling awal sampai sekarang. Dari situ ia mendapati betapa miripnya pengalaman-pengalaman keagamaan dari orang-orang yang dipisahkan oleh waktu yang panjang, jarak yang jauh, perbedaan budaya dan perbedaan agama yang tajam. Meski bukan seseorang yang religius, William James kemudian menyimpulkan bahwa; meskipun peradaban akan menarik umat manusia ke arah yang berbeda, tetapi, paradoksnya, akan lebih banyak orang yang berdoa, mendekat kepada Tuhan. Ini jugalah tesis banyak peneliti lain agama, termasuk biolog Alexis Carrel dalam dua karya-klasiknya: Prayer dan Man the Unknown.

Dari masa modern, sosiolog Peter Berger harus merivisi pandangan lamanya tentang akan hilangnya agama dari kehidupan manusia dalam berbagai karyanya terdahulu, dan terpaksa merevisinya dengan The Desecularization of the World. Kenyataannya, ramalan orang di berbagai masa tentang akan pupusnya agama dari kehidupan manusia, semuanya runtuh. Sebagai contoh lain, suatu kali Majalah Time memuat foto cover story majalah ini dari edisi tahun 1945-an yang di dalamnya diramalkan bahwa agama tinggal menunggu waktunya. Dan sebuah cover story Time yang terbit 60 tahun kemudian mengakui bahwa ramalan tahun itu keliru. Agama justru bangkit lebih kuat lagi. Newswieek pun pernah menunjukkan betapa, seiring materialisme dan sekularisme, justru lebih banyak orang Amerika berdoa ketimbang berolahraga, nonton bioskop dan berhubungan seks!.

Memang, tampaknya Tuhan bersemayam dalam fitrah (natur primordial) makhluk yang bernama manusia ini. Betapa pun para ateis terus-menerus berusaha manyangkalnya.

Sebagian ateis menawarkan penjelasan mengenai Tuhan sebagai ‘god of the gaps’. Artinya Tuhan yang keberadaan-Nya mengisi ketidakmampuan kita untuk menjelaskan keadaan. Kalau suatu saat kita bingung menjelaskan kenapa alam semesta ini dipenuhi bencana yang kita tak berdaya menolaknya, kita buatkan konsep tentang tuhan yang bisa menjelaskan hal itu. Ketakutan, ketidaktahuan telah mendorong manusia menciptakan (konsep) Tuhan.

Ada juga konsep yang disebut dengan meme. Meme adalah semacam gen, tapi bukan bersifat biologis, melainkan sosial. Jadi sebagaimana manusia ini punya gen yang diturunkan dari orang tua, gen sosial yang dinamakan meme ini juga diturunkan kepada masyarakat oleh lingkungan sosialnya. Tuhan, dalam konteks ini, semacam warisan turun-temurun lingkungan sosial.

Kenyataannya, mau dibilang itu meme, mau dibilang itu gen, atau ’gods of the gap’, manusia butuh sesuatu, sesuatu yang kemudian disebut sebagai Tuhan, Allah, Yahwe, Sang Hyang Widi, dan sebagainya. Kenyataannya, dari zaman primal, sebelum 180 abad yang lalu, sampai sekarang -setelah segala macam ilmu pengetahuan makin maju, teknologi makin maju- apa yang disebut Tuhan itu tak pernah sirna dari kehidupan manusia..

Mengenai ini, Al-Quran menjelaskan; ”Hadapkan wajahmu dengan lurus kepada al-din (jalan hidup itu) lurus, yaitu fitrah Allah yang manusia diciptakan berdasarkan fitrah itu”. Manusia diciptakan atas dasar ’natur’ ketuhanan. Jadi, Tuhan adalah sumber dan ‘kembaran’ manusia. Demikian pula kita diajar-Nya bahwa ”Sesungguhnya kita bagian dari Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali.” Ada ikatan yang menyatukan manusia dan Tuhan. Tuhan sesungguhnya adalah soul mate manusia. ”Orang-orang yang percaya itu, amat sangat kecintaannya kepada Allah,” demikian al-Qur’an mengabarkan.

Kebahagiaan tertinggi adalah ketika cinta kita terbalas, ketika sukma kita dipenuhi cinta. Sedangkan nestapa paling menyakitkan adalah kehampaan oleh cinta tak terbalas. Apalah pula cinta kepada Allah. Dengan kata lain, surga itu adalah kembali kepada Allah Swt dan neraka itu jauh dari Allah Swt.

Kalau pun di dunia ini kealpaan kepada Tuhan sebagai soul mate kita belum terlalu nyata, nanti di barzakh alam kubur, perasaan tersiksa mulai makin terasa. Yakni ketika intensitas ruhani kita lebih tinggi dibanding kehidupan kita di dunia. Puncak perasaan masuk neraka itu adalah ketika kita dibangkitkan -dalam bentuk yang sepenuhnya ruhani dan kita sudah sepenuhnya ingat bahwa soul mate kita Allah Swt- dalam keadaan kita jauh dari Allah Swt. Yakni ketika diri kita didera perasaan hampa akibat jauh dari Kekasih Sejati kita itu.

Semoga kita selalu dikarunia kedekatan (qurbah) kepada Allah dan kebahagiaan selalu berada di hadirat-Nya.

 

 

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter