Kita Tak Bahagia, Mungkin Karena Kita Bodoh







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Mungkin ada orang yang ga minat nikah, ga berpikir untuk punya anak, atau ga terlalu semangat memburu uang, bahkan ngga terobsesi dengan seks. Tapi siapa yang ga mau bahagia?

Pastinya, kita semua pengen dunk. Kita udah didesain secara sistematis untuk memburu kesenangan, seperti bunga matahari ditakdirkan tunduk menghadap sang surya.

Sayangnya, tak ada (kebahagiaan) yang abadi. Dan kita pun bergegas memburunya lagi. Kebahagiaan – seperti tali pusar bayi – adalah sesuatu yang efemeral, hanya ada untuk suatu masa dan menghilang sesudahnya.

Usaha yang demikian keras untuk memburu kebahagiaan, justru menjadi musabab munculnya penderitaan. Padahal, andai saja kita mengerti, menyerah bukan selalu berarti lemah. Bisa jadi itu bukti, kita cukup kuat untuk melepasnya pergi, cukup pintar untuk menghindari luka lebih dalam.

Rasa nyaman tak mungkin bisa muncul dengan melihat mereka yang lebih berada. Ingat ungkapan terkenal seorang santo “Aku menangis karena tak punya sepatu, kemudian kulihat ada yang tak punya kaki”.

Semakin banyak hal yang kita butuhkan untuk menjadi bahagia, maka semakin besar pula kemungkinan kita jatuh merana. Padahal banyak orang yang bahkan tak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan “paling mendasar” sebagai manusia, tapi justru bahagia dan baik-baik saja. Lihat dong cover Newsweek edisi Wannabe di sebelah itu: Happiness isn’t a feeling, but a decision.

Kita harus cukup cerdas untuk menyadari bahwa cara termudah mendapat kebahagiaan, adalah dengan terus berusaha mengurangi fokus pada diri sendiri. Semakin kita egosentris, semakin kita ringkih. Bahkan hal kecil bisa membuat kita berantakan.

Dalam tataran material, intelektual dan spiritual, hampir semua hal bisa mengecewakan kita, jika kita tetap bersikap egosentris. Termasuk hal seremeh tak mendapat undangan ke sebuah acara makan siang, atau rekan kerja dapat promosi sementara kita tidak. Istilahnya, tetangga beli mobil, kita demam menggigil.

Pada dasarnya semua manusia itu baik, dan semua orang punya potensi sebagai sumber kebahagiaan. Orang yang benar-benar baik itu jarang, selangka orang yang benar-benar jahat. Memangnya sinetron!

Hanya diperlukan sedikit kecerdasan untuk belajar merasakan keceriaan simpatetik. Jika teman atau tetangga kita berbahagia, semestinya itu juga bisa sampai ke hati kita, yang lantas ikut terhangatkan, bukan malah terpanaskan.

Belajarlah melepas, baik kebahagiaan maupun kepedihan. Dalam momen paling ceria, atau saat paling luka, ingatkan diri kita bahwa, “pada saatnya, semua ini pasti berlalu”

Tak ada yang permanen dalam soal perasaan. Mustahil mengabadikan rasa, seabsurd niat menghentikan laju waktu. Hidup dengan semua gelombangnya, adalah gegas ombak di pantai, datang dan pergi.

Satu-satunya cara memperlama durasi bahagia, justru dengan segera melepas pergi gempita rasa itu, untuk kemudian keluar dari diri kita sendiri. Karena kebahagiaan sesungguhnya justru datang ketika kita bisa keluar dari diri kita sendiri, melupakan diri kita sendiri, pada sebuah momen di mana kita terhubung ke sebuah realitas yang lebih tinggi, ke sesuatu yang tak tergapai tapi kita toh bisa sampai.

Ketika kita terpesona pada sebuah lukisan, terhanyut mendengar alunan musik, atau “sekadar” terpana menatap matahari pulang di ujung horizon, itulah saat-saat kita melupakan diri kita sendiri. Kualitas kebahagiaan yang sama juga bisa didapat saat kita melupakan kepentingan sendiri ketika menolong orang lain, yang (sepertinya) tak untungnya buat kita.

Betapa bodohnya sudah menyia-nyiakan kesempatan berbahagia, dengan terus-menerus terpusat pada diri sendiri… Padahal kebahagiaan hanya bisa didapat, justru dengan memberikannya.

Ini bukan ajakan untuk menjadi orang baik lo, (hari gini mau jadi orang baik?) tapi menjadi manusia cerdas yang bisa mencegah diri jangan sampai hidup sebagai makhluk merana.

http://nesia.wordpress.com/2009/04/16/kita-tak-bahagia-mungkin-karena-kita-bodoh/

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter