“Komunikasi dengan anak”, prakteknya tidak semudah teori







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Terinspirasi dari tulisan di sebuah blog pagi ini, tiba-tiba jadi pengen nulis soal komunikasi orangtua-anak di era kemerdekaan saat ini *sok nyambung-nyambungin dengan suasana 17-an*. Yang dimaksud dengan era kemerdekaan itu adalah era modern sekarang ini, saat kesenjangan generasi tidak lagi dianggap sebagai penghalang untuk mengemukakan suatu pendapat.

Keluarga-keluarga sekarang ini terlihat lebih menerapkan suasana yang terbuka, bicara terbuka antara seluruh anggota keluarga. Sedikit berbeda dengan era yang lalu, saat orang tua dan anak terkadang punya hambatan untuk berkomunikasi dengan lancar dan terbuka. Mungkin tidak semua keluarga begitu, tapi sepertinya sebagian besar keluarga menerapkan pola yang kurang lebih demikian. Tidak semua hal dapat dibicarakan dengan orang tua. Anak perlu memilah-milah dulu, apa saja yang bisa disampaikan atau ditanyakan kepada orang tua. Ada kalanya orang tua terlihat agak ‘kesal’ karena tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya. Orang tua sebagai tokoh otoritas dalam keluarga seringkali menempatkan diri sebagai tokoh panutan yang selalu tahu dan tidak terbantahkan.

Perkembangan jaman yang pesat sekarang ini turut memberi andil pula dalam kehidupan keluarga. Keluarga-keluarga lebih demokratis, komunikasi antara ayah-ibu dan anak lebih terbuka. Tapi, dari beberapa diskusi dengan keluarga-keluarga muda, ternyata tidak semua hal dapat mereka bicarakan dengan anggota keluarga yang lain. Seorang ayah / suami kadang tidak dapat bercerita terbuka pada sang ibu / istrinya, atau sebaliknya. Kadang mereka pun tidak dapat berbicara terbuka dengan anak-anaknya. Disini pembahasan akan dibatasi pada komunikasi orang tua-anak saja.

Seorang anak yang dibesarkan dalam pola komunikasi terbuka seperti ini, akan selalu bertanya. Setiap hal yang baru selalu ditanyakannya. Adakalanya orang tua menjadi lelah dan bosan menjawabnya, tapi itulah anak-anak. Pernahkah terbayang bahwa dengan usia mereka yang baru beberapa tahun, tentunya banyak sekali informasi yang belum mereka ketahui, dan nara sumber terdekat yang dapat mereka temui tentunya adalah keluarga. Beberapa teman mengatakan bahwa masalah kemudian muncul setelah anak bertanya soal-soal yang kompleks atau hal-hal sensitif, seperti “apakah menstruasi itu?”, atau “kondom tuh apa sih?”

Terkadang orang tua menghindari pertanyaan-pertanyaan seperti itu dengan cara (misalnya) pura-pura tidak mendengar pertanyaan, mencoba mengalihkan pembicaraan pada hal yang lain, atau menyuruh anak untuk menanyakannya pada orang lain yang dianggap lebih mampu menjawab. Bagi anak yang masih kecil, mereka mungkin akan mengulangi pertanyaan yang sama bila merasa belum mendapatkan jawaban, namun bagi anak yang menjelang remaja, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab seperti itu dapat membawa bermacam dampak. Mereka dapat merasa bahwa mungkin pertanyaan itu memang tidak selayaknya ditanyakan pada orang tua, dan mereka mencari jawaban ke lingkungan sekitarnya dengan cara mereka sendiri. Padahal kalau orang tua mau lebih peka, itulah saat dimana komunikasi orangtua-anak diuji. Pada saat anak berharap mendapatkan pengetahuan baru dari orang yang mereka percayai, alangkah baiknya kalau orang tua memberikan jawaban yang tepat dan dapat diterima dengan mudah oleh anak.

Kemudian, bagaimana caranya memberikan jawaban yang dapat diterima oleh anak?

Tentunya dengan bahasa dan kalimat-kalimat sederhana sesuai dengan usia anak. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terkadang dipicu oleh adanya istilah-istilah baru yang mereka temui. Tidak semua informasi perlu disampaikan pada anak, yang penting adalah bahwa mereka dapat paham akan arti kosa kata baru yang ditanyakannya tersebut. Pertanyaan-pertanyaan lanjutan biasanya lebih banyak ditanyakan oleh anak-anak yang sudah lebih besar, ketika mereka mulai menghubung-hubungkan antara “kata-kata baru” itu dengan aktivitas-aktivitas sehari-hari.

Contohnya, seorang anak bertanya, “apakah kondom itu?”. Penjelasan tentang kebendaan, bahwa kondom adalah pembungkus alat kelamin laki-laki, adakalanya sudah cukup memberi kepuasan bagi seorang anak yang bertanya. Saat anak mulai bertanya, “kenapa harus dibungkus?”, barulah tugas orang tua untuk menjelaskan tentang seksualitas, juga dengan bahasa sederhana yang dapat dimengerti anak.

Memang tidak semua menjadi tugas orang tua, karena informasi dapat mereka peroleh dimana saja, termasuk juga melalui buku-buku pelajaran maupun internet. Sebagai contoh, setelah konsep tentang ‘kondom’ dipahami, ada juga anak yang dapat memahami sendiri bahwa alat tersebut perlu digunakan untuk mencegah penularan penyakit kelamin, dan informasi itu mungkin ia peroleh dari buku, majalah ataupun internet. Orang tua bisa bernapas lega tidak perlu menjelaskan hal-hal yang ‘sulit’ pada anak-anaknya, yang pasti orang tua perlu meluruskan, jika konsep-konsep yang dipakai oleh anak tidak sesuai atau kurang tepat. Komunikasi terbuka tetap harus dijalankan.

Topik seksualitas seringkali memang sulit dibicarakan terbuka. Mengutip tulisan Paman Tyo, “Seksualitas manusia adalah sesuatu yang wajar. Ada sisi joroknya, ada sisi sarunya, ada sisi indahnya, ada sisi pantas dan tak pantas, ada sisi boleh dan tak boleh, dan masih banyak lagi…”, hal itu semua dapat menjadi diskusi hangat antara orang tua dan anak asalkan sesuai konteks waktu dan tempat.

Point pentingnya adalah, membiasakan diri untuk berbicara terbuka, bicara apa adanya dengan anggota keluarga (khususnya dengan anak) akan membawa pada hubungan orang tua-anak yang harmonis. Hal ini tentunya tidak hanya terbatas pada topik-topik seksualitas saja, namun kalau topik sensitif dapat didiskusikan secara terbuka, maka bukan hal yang sulit untuk membicarakan hal-hal umum lainnya. Kepercayaan anak pada orang tua semakin kuat, dan orang tua juga akan semakin yakin saat melepas anak-anaknya hidup bersosialisasi di lingkungan modern sekarang ini.

http://pratanti.wordpress.com/2007/08/18/%E2%80%9Ckomunikasi-dengan-anak%E2%80%9D-prakteknya-tidak-semudah-teori/

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter