Konsep Anak Pintar yang Perlu Diketahui Orangtua







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

“Anakku dapat nilai 95 lho, di pelajaran Matematikanya. Dia memang anak pintar,” ujar seorang ibu yang bangga dengan prestasi anaknya di depan para ibu-ibu lainnya. Sudah bisa dibayangkan bagaimana tanggapan para ibu-ibu yang lainnya yang pasti akan ikut menceritakan prestasi atau angka keberhasilan putra putrinya terhadap ibu-ibu yang lain.

Hal ini sudah menjadi fenomena umum yang dilakukan oleh ibu-ibu ketika mereka mempunyai waktu luang untuk sekedar menyapa, berbincang atau berbagi pengalaman.

Salah satu topik dan tema perbincangan tentu saja berputar sekitar keseharian dan kehidupan mereka, terutama tentang putra dan putri mereka, perkembangan mereka, kenakalan mereka, dan prestasi mereka.

Mempunyai anak pintar adalah sebuah kebanggaan bagi keluarga. Kepintaran tersebut biasanya diukur dengan perolehan nilai putra putri mereka di bidang akademis.

Berbicara mengenai hasil kerja di bidang akademis demi menunjukkan kepintaran anak kita sangat memungkinkan menimbulkan istilah tidak pintar atau bodoh bagi orang lain ketika perolehan hasil belajar mereka tidak segemilang putra putri kita.

Padahal, secara esensi tidak ada anak manusia yang dilahirkan bodoh. Semua anak itu pada dasarnya pintar dengan karakteristik dan keahlian masing-masing. Hal ini didukung oleh teori Multiple Intelligence yang diformulasikan oleh Howard Gardner pada tahun 1983.

Teori Multiple Intelligence ini bukan berarti bahwa semua anak ahli atau pintar di semua bidang, tapi dilihat sebagai kekuatan dan kelemahan.

Gardner membagi kekuatan dan kelemahan intelegensia menjadi delapan golongan, yaitu: logical-mathematical, spatial, linguistic, bodily-kinesthetic, musical, interpersonal, intrapersonal dan natural intelligences.

Ketika seorang anak pintar dalam bermain dengan angka, berpikir kritis, bermain dengan logika dan reasoning, bisa dibilang kalau anak tersebut kuat dengan logical-mathematical intelligence.

Spatial intelligence ditandai dengan kemampuan anak dalam menggunakan daya imajinasinya dalam bentuk. Biasanya mereka suka bermain dengan teka-teki.

Sedangkan kemampuan anak mengolah dan menggunakan kata-kata merupakan kekuatan anak dalam linguistic intelligence. Mereka cenderung suka membaca, menulis, bermain dengan kata-kata, entah dengan berdebat ataupun berdiskusi.

Bodily-kinesthetic intelligence menunjukkan kemampuan anak dalam beraktifitas menggunakan otot. Kecenderungan anak dengan kekuatan ini biasanya berbakat di bidang olahraga ataupun tari.

Sedangkan musical intelligence ditandai dengan kemampuan anak dalam mengenali dan menghasilkan bunyi yang berkaitan dengan musik. Mereka mampu bermain dengan berbagai alat musik, menghasilkan lagu dengan harmoninya.

Kekuatan anak dalam berinteraksi dengan orang lain merupakan tanda interpersonal intelligence. Mereka mampu memahami orang lain sehingga mereka disukai oleh teman-temannya. Lain halnya dengan intrapersonal intelligence, kekuatan ini berasal dari diri sendiri.

Kemampuan intrapersonal ini ditandai dengan kemampuan memahami diri sendiri, memahami batas kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Terakhir adalah natural intelligence yang ditandai dengan mencintai lingkungan dan alamnya. Biasanya anak pintar dengan kekuatan ini menyayangi binatang dan tumbuhan.

Dari teori Gardner dengan multiple intelligence nya, kita bisa paham dan tahu bahwa kepintaran anak tidak hanya diliat dari perolehan hasil belajar di bidang akademis saja.

Mereka semua adalah anak pintar dan berbakat dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing. Akan tetapi, yang harus kita pahami sebagai orang tua adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan kekuatan inteligensia anak-anak kita untuk mengatasi kelemahan mereka.

 

 

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter