Kredit: Cermati Sebelum Tanda Tangan







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

MEMBELI mobil dengan cara kredit ke sebuah lembaga finansial tampak semakin mudah. Lembaga finansial berlomba-lomba membuat syarat yang tidak berbelit-belit atau menyulitkan konsumen. Bahkan persetujuan bisa ditetapkan dalam waktu 1×24 jam.

Namun usai permohonan kredit disetujui, konsumen wajib menandatangani beberapa surat perjanjian. Nah, apa saja isi surat perjanjian itu dan sejauh mana dokumen-dokumen itu harus dicermati?

PERKUAT POSISI
“SECARA garis besar, semua lembaga finansial menerapkan isi surat kontrak yang mirip untuk legalitas sewa-menyewa. Surat itu tidak berdiri sendiri, tetapi bergabung dengan beberapa dokumen lain. Umumnya untuk pengesahan pemohon harus melakukan tanda tangan sekitar 6-7 kali,” ujar Angtawan, Senior Manager PT BFI Finance Indonesia, Tbk.

la menjelaskan, induk dari surat kontrak adalah surat kesepakatan pembiayaan konsumen yang berisi surat perjanjian pembiayaan dengan jaminan fidusia (obyek atau kendaraan dijadikan jaminan). Lalu surat bukti serah terima kendaraan, asuransi dan beberapa surat berisi materi informasi. Data-data konsumen, kondisi kendaraan, kondisi kredit, harga dan lain-lain termasuk di dalamnya.

Pada dasarnya surat perjanjian itu lebih ditujukan sebagai pengikat konsumen untuk memenuhi kewajibannya membayar angsuran sesuai jadwal dan jumlah. Selain itu juga berfungsi memperkuat posisi lembaga finansial, karena itu isinya tak bisa dinegosiasikan.

Jika terjadi kasus konsumen gagal memenuhi kewajiban mengangsur atau wanprestasi, pengalihan kendaraan atau dipakai untuk tindakan kriminal, konsumen dianggap telah mengetahui aturan main. Segala tindakan bisa saja dilakukan lembaga finansial untuk berbagai kondisi yang telah tertera disitu. Semisal, mobil langsung disita tanpa pemberitahuan dan langsung dijual, atau diberikan surat peringatan lebih dulu (baca kutipan syarat dan ketentuan umum).

“Karena itu sebelum membubuhkan tanda tangan di surat kontrak, kami selalu mengingatkan sekaligus memberitahu konsumen untuk mencermati beberapa poin penting di surat perjanjian. Seperti poin tentang pengalihan kendaraan, keterlambatan, denda dan peraturan pelunasan,” jelas Angtawan.

MEMBERATKAN
JADI sudah seharusnya surat kontrak beserta dokumen lainnya dipahami betul oleh konsumen. Supaya bila terjadi sesuatu di tengah jalan, konsumen bisa mengikuti aturan main yang ada dan tidak dirugikan.

Demikian seperti yang diungkap Jhonnie Y. Maukar S.H., M.M., Ketua Hukum HAKI, PAPPRI. Sudah seharusnya antara konsumen dan lembaga pembiayaan ada perjanjian tertulis. Namun tak ada keharusan dibuat dalam bentuk akta otentik atau akta bawah tangan. Tapi dari kepentingan sebagai pembuktian pada hukum Indonesia, bukti yang terkuat adalah bentuk otentik. Memang hal itu menghasilkan banyaknya pasal (klausul) yang tertera dan bisa membuatnya malas dibaca. Padahal hak dan kewajiban dari pihak-pihak yang menyepakati disebut di situ dan penting untuk diketahui. Paling tidak konsumen memahami arti dari beberapa pernyataan pokok.

Sekali lagi yang perlu diingat adalah surat perjanjian pembiayaan kendaraan memang biasanya memberatkan konsumen. Dan tak bisa dinegosiasikan. Artinya memberikan posisi superior bagi lembaga finansial dan inferior bagi konsumen.

“Karena pembuatannya sepihak. Dengan kata lain, lembaga finansial memiliki kewajiban minimal dan hak maksimal. Hal ini berlaku sebaliknya bagi konsumen. Dan klausul itu dibuat guna meminimalkan campur tangan pengadilan,” tegas Jhonnie, yang juga dosen di Fakultas Hukum UI dan Universitas Sahid.

Tapi secara hukum, hal itu dapat dipahami karena merupakan perjanjian risiko tinggi dengan objek perjanjian benda bergerak (kendaraan). Asal disepakati kedua pihak, pesertanya cakap menurut hukum, obyektif dan untuk klausa yang halal.

Apabila persyaratannya kurang dari itu, perjanjian bisa dianggap batal. Dari sekian banyak klausul, ada beberapa hal terpenting harus diperhatikan pada sebuah perjanjian pembiayaan kendaraan. Cermati hal-hal mengenai subyek perjanjian finansial (konsumen dan lembaga finansial), obyek perjanjian (kendaraan), jangka waktu, imbalan jasa lembaga finansial dan cara pembayaran. Lalu perhatikan juga hak opsi bagi konsumen. Meliputi kewajiban perpajakan, asuransi, tanggung jawab atas obyek perjanjian finansial, akibat kejadian lalai dan akibat rusak atau hilangnya obyek perjanjian.

KUTIPAN SYARAT DAN KETENTUAN UMUM PERJANJIAN DENGAN JAMINAN FIDUSIA
Seluruh hutang harus dibayar dengan sekaligus oleh debitor, dan berhak ditagih dengan seketika dan sekaligus oleh debitor, tanpa memerlukan pemberitahuan, teguran atau tagihan dari kreditor atau juru sita Pengadilan atau pihak lain yang ditunjuk kreditor, dalam hal terjadi salah satu atau lebih peristiwa sebagai berikut:

1. Debitor lalai membayar salah satu angsuran atau angsuran-angsurannya, atau debitor melalaikan kewajiban-kewajibannya

2. Harta kekayaan debitor disita, baik sebagian atau seluruhnya atau harta kekayaan debitor menjadi obyek suatu perkara yang menurut kreditor sendiri dapat mempengaruhi kemampuan debitor untuk membayar kembali kewajiban-kewajibannya dalam perjanjian ini

3. Debitor meninggal dunia, atau sakit berkelanjutan atau cacat tetap, dan menurut pendapat kreditor sendiri debitor tidak mampu untuk menyelesaikan kewajiban-kewajibannya dalam perjanjian ini, kecuali apabila menerima dan/atau penerus hak/para ahli warisnya, dengan persetujuan kreditor, menyatakan sanggup untuk memenuhi semua kewajiban debitor berdasarkan perjanjian ini

4. Debitor berada dibawah pengampunan (Onder Curatele Gesteld) atau karena sebab apapun yang menyebabkan debitor tidak cakap atau tidak berhak atau tidak berwenang lagi untuk melakukan tindakan pengurusan, atau pemilikan atas dan terhadap kekayaannya, baik sebagian atau seluruhnya

5. Debitor mengajukan permohonan kepailitan atau penundaan pembayaran hutang-hutangnya (Surseance Van Betaling) atau debitor dinyatakan pailit atau suatu permohonan kepailitan diajukan terhadap debitor atas permintaan pihak manapun

6. Barang jaminan dipindahtangankan atau dijaminkan kepada pihak ketiga, tanpa mendapat persetujuan secara tertulis terlebih dahulu dari kreditor

7. Debitor dan/atau barang terlibat dalam suatu perkara pidana atau perdata dan karenanya menurut pendapat kreditor sendiri debitor tidak mampu untuk menyelesaikan kewajiban-kewajibannya dalam perjanjian ini

8. Debitor lalai, tidak melaksanakan kewajiban, atau wanprestasi berdasarkan perjanjian ini yang diberikan kreditor.

Sumber:
Ary Damarjati
Majalah AutoBild, Tanggal 11-24 Oktober 2003 Edisi 12

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter