Masuk Angin, istilah beragam makna







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Masuk angin, adalah terminologi yang masih kerap kita dengar dan biasa digunakan untuk menggambarkan “suatu kondisi tubuh”. Gejala ataupun beberapa kumpulan gejala (syndroma) sangat mudah dinamakan “masuk angin” ketika seseorang merasakan “keluhan tertentu”. Setiap orang berbeda-beda dalam mendiskripsikan masuk angin.

Istilah “masuk angin” tidak ada dalam terminologi kedokteran.
Menurut pendapat penulis, istilah tersebut kemungkinan merupakan warisan nenek moyang (khususnya suku Jawa) untuk menyebutkan suatu gejala dan bertahan hingga sekarang. Terlebih dengan adanya iklan-iklan memanfaatkan istilah “masuk angin” di media. Orang pintar minum -*@^+$ #%*&$- maka makin “pintar”-lah kita.

Informasi iklan (masuk angin) berulang dan terus menerus tersebut tanpa disadari mencekoki kita ibarat kabut “pintar” menyelimuti akal sehat. Bagi yang mempercayainya akan ngotot dan berujar: “buktinya dengan minum “iklan” ataupun ramuan tertentu, anginnya hilang”. :P
Sedangkan bagi yang memahami tentu tidak akan mempertaruhkan akal sehatnya untuk mempercayai fenomena masuk angin.

Di dalam praktek sehari-hari, seseorang menyebutkan masuk angin untuk berbagai macam keluhan. Beberapa contoh-contoh keluhan yang biasa dikaitkan dengan “masuk angin” adalah sebagai berikut:
Gak enak badan, perut kembung, mual, eneg ataupun muntah disebut masuk angin. Demikian pula keluhan sakit kepala, nggeliyeng, badan pegal, demam, pilek, gak suka makan, gak bisa kentut … masuk angin. Keringat dingin, lemas, perut pedih, diare… masuk angin. Bla bla bla … masuk angin.

Itu dulu. Dengan penjelasan simultan dan telaten, lambat laun khalayak akan paham bahwa salah satu atau lebih keluhan yang selama ini disebut masuk angin adalah tanda (gejala) dari suatu penyakit atau gangguan tubuh. Ketika berhadapan dengan pasien, penulis lebih memilih menjelaskan kaitan keluhan dengan penyakit dibanding mentolerir sebutan masuk angin. Ini penting untuk memberikan informasi yang benar, walaupun di sisi lain gelegar “masuk angin” ditawarkan iklan seolah sebuah pembenaran seputar fenomena masuk angin.

Kini, sudah amat jarang seorang pasien mengatakan masuk angin ketika menyampaikan keluhannya. Kalaupun ada biasanya seseorang yang pertama kali ke praktek atau simbah yang sudah sepuh. Itupun belum tentu ada dalam 6 bulan.
Menghadapi anggapan yang sudah meluas dan dianggap benar memang berat. Belum lagi tawaran iklan nan bertubi-tubi lengkap dengan asesori klaim-klaimnya yang saban hari dijejalkan ke hadapan khalayak, baik oleh media maupun pedagang keliling berdasi.

Bagi dokter, menghadapi gencarnya iklan pintar “masuk angin” tidak cukup dengan keluh kesah. tidak perlu menyalahkan masyarakat. Hanya diperlukan sedikit waktu ekstra dan kluyuran untuk woro-woro. Gak perlu dana anggaran, workshop dan sejenisnya. Pemborosan uang negara. Emangnya mau ngumpulken warga masyarakat di hotel ? Waks :P

Di dalam ruang praktek sedikit lebih mudah. Penyebaran dan penjelasan informasi cukup dengan cetak beberapa leaflet bergambar full color. Kalau perlu bikin brosur. Lebih asyik lagi pakai PDA *ngiklan* Syukur-syukur menggunakan laptop atau komputer sebagai alat bantu.
Dan yang penting gak perlu nambah biaya ekstra … *halah* :P
Bukankah tugas yang mengerti memberi tahu yang belum mengerti ?

 

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter