Mengistimewakan Istri Rumah Tangga







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Ada satu dilema besar dalam kehidupan seorang perempuan, yaitu pada saat terlahir sang buah hati dari rahimnya. Perempuan dihadapkan pada dua pilihan yang berat: antara harus mengurus si kecil dengan tangan sendiri ataukah merelakan si kecil diurus oleh tangan lain.

Pilihan ini selalu menjadi pilihan berat bagi seluruh perempuan di dunia, yang selalu menjadi pro dan kontra antara pilihan satu dengan pilihan lainnya. Kedua pilihan memiliki kekuatan, kesempatan, serta kelemahan yang berbeda, sama-sama baiknya. Semua itu sangat kondisional dan kembali pada pilihan masing-masing.

Lalu bagaimana jika pilihan jatuh pada karir sebagai ibu rumah tangga? Kebanyakan perempuan bisa dipastikan berat memilih profesi ini, bahkan beberapa orang menganggap profesi ini menjadi profesi terakhir yang dipilih jika tidak ada pilihan lain.

Medan sosial bagi ibu rumah tangga (IRT) sering terasa berat ketika berhadapan dengan “gemerlapnya” dunia karir “di luar sana”. Tidak bisa dipungkiri memang. Tapi semuanya akan kembali baik-baik saja ketika sang IRT kembali memahami peran yang dipilihnya, serta tanggung jawab yang diembannya.

Peran suami sangat berarti bagi keberlangsungan pengembalian jati diri seorang istri yang memilih maupun yang “terpaksa” menjadi IRT. Terkadang seorang suami malah ikut “menjerumuskan hati” sang istri bahwa memang profesinya adalah profesi yang “amat disayangkan”.

Sebagaimana dukungan seorang istri terhadap sepak terjang karir suami, yang juga senantiasa mendampingi senang dan susah, seorang suami pun harus senantiasa mendukung sepak terjang karir istri. Terkadang ada istri-istri yang merasa menjadi perempuan “kelas dua” alias minder ketika berhadapan dengan wanita karir diantara teman-temannya. Padahal, jika konsep jati diri seorang IRT dipahami, akan terlihat jelas bahwa IRT adalah sebuah “profesi informal” yang jika dinilai dengan kacamata karir merupakan sebuah bentuk “wiraswasta”. Ada kesempatan-kesempatan tertentu yang nilainya besar yang hanya bisa didapatkan oleh seorang IRT. Amat sangat disayangkan apabila kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Ibarat seorang pekerja kantoran yang hanya duduk-duduk, bergosip, dan bercanda tanpa memberikan kontribusi yang berarti bagi kelangsungan perusahaan, kinerja IRT juga dapat dinilai dengan sepak terjangnya mengelola keluarga.

Disitulah peranan suami sebagai nakhoda untuk ikut membantu istri menemukan sisi-sisi kehidupan dan potensial seorang IRT. Dan dalam tataran praktis, seorang suami hendaknya memberikan kewenangan lebih dalam manajemen rumah tangga. Selain mempermudah perjalanan hidup sang suami, juga untuk memberikan bahwa IRT memiliki tanggung jawab yang sama besar dengan bekerja di luar atau bahkan lebih berat. Misalkan dalam sebuah pengambilan keputusan, IRT haruslah ditempatkan dalam posisi yang sejajar. Meski tetap keputusan final berada di tangan sang suami, namun dengan persamaam posisi pengambilan keputusan, IRT akan mendapatkan porsi “power” yang lebih.

Menurut McAdoo (2002) serta Riley & Shalala (2000) bahwa salah satu role seorang ayah adalah sebagai “provider”. Dalam konteks sebagai hubungan horizontal di dalam pernikahan, suami hampir bisa dipastikan selalu yang menjadi provider utama. Sebagai seorang provider, suami harus memikirkan piranti-piranti yang harus diadakan untuk mendukung akselerasi kualitas IRT.

Mengutip ucapan Imam Ali bin Musa Ar-Ridha as, bahwa “Luasnya rumah dan banyaknya sahabat”. Sisi rumah bisa diartikan sebagai keutamaan materi, dan sisi sahabat bisa diartikan sebagai sisi ruhaniah. Imam Musa al-Kazhim as mengatakan bahwa dunia adalah sarana terbaik, sebagaimana dikatakan “Jadikanlah untuk dirimu bagian dari dunia selama hal itu halal, tidak merusak harga diri dan tidak melampaui batas, serta gunakanlah dunia tersebut untuk memperkokoh agama, karena diriwayatkan bahwa bukan golongan kami orang yang mengorbankan dunia demi agamanya atau mengorbankan agama demi dunianya“.

Kalau ditafsirkan dalam konteks suami sebagai provider keluarga, maka suami lah yang memegang posisi kunci dalam penyediaan sisi ruhaniah dan materi yang akan menjadi stimulus lanjutan bagi perkembangan kualitas IRT.

Dalam konteks keislaman, pemimpin tidak lain adalah seorang pelayan. Beliau saww bahkan pernah bekerja banting tulang kepada kaum Yahudi demi mendapatkan sesuap makanan, itupun hanya diberi upah beberapa butir kurma saja yang bisa dihitung dengan jari. Kemudian kurma itu beliau saww bagikan kepada umatnya. Namun dengan berkah (berkat) kerasulan, makanan itu sudah mengenyangkan dan mencukupi kebutuhan energi saat itu. Sungguh konsep pemimpin-pelayan yang mulia, yaitu seorang pemimpin yang menempatkan diri sebagai pelayan dalam urusan mengurus yang dipimpinnya, namun menjadi seorang pemimpin-pengarah dalam urusan duniawi dan akhirat.

Dalam buku biografi Ayatullah Khomeini ra yang diceritakan istri dan anak-anaknya, bahkan ketika sang Ayatullah melihat kancing bajunya terlepas, Ayatullah langsung mencari jarum dan benang yang kemudian beliau sendiri yang menjahitnya walau akhirnya istrinya terharu melihatnya seperti itu dan dibantulah sang Ayatullah. Hikmahnya adalah bahwa ternyata pekerjaan sederhana seperti menjahit kancing saja adalah pekerjaan semua orang, bukan stereotip perempuan.

Oleh karena itu, ketika kesabaran dan naluri keibuan muncul dari seorang istri maka muliakanlah ia, pastikan semua jalan kemuliaan itu tersedia cukup…

 

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter