Muslim Kok Nyebelin?







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Di antara kita ada yang menjalankan syariat Islam sekadar “sami’na wa atha’na” tanpa tahu maksudnya. Mungkin tahu tetapi tidak paham. Fanatik buta tanpa makna. Hal itu ibarat iman tanpa ilmu, yang hanya akan menjadi bumerang; dapat melukai diri dan orang lain. Padahal banyak ayat dan hadis mengajak agar kita menggunakan akal sehat, agar dapat merenung dan mengamalkannya. Jadi, tidak sekadar ikut-ikutan.

Yuk buka hati dan pikiran, lalu tampilkan sosok Islam yang rahmat bagi semesta.

TENTANG PENULIS

SATRIA DHARMA, kali pertama masuk IKIP Negeri Surabaya tahun 1977, pada program pendidikan guru Diploma 1 Jurusan Bahasa Inggris di PGSLPYD (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama Yang Disempurnakan). Setelah lulus, dia langsung ditempatkan di SMPN 1 Caruban, mengajar selama 2 tahun. Pada 1980, dia kembali masuk IKIP pada program S-1 jurusan yang sama, sambil mengajar sebagai PNS di SMPN 2 Surabaya.

Di IKIP, Satria pernah menjadi ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Bahasa Inggris meski waktunya terbatas, karena dia juga harus mengajar pada siang harinya.

Karena prestasinya yang bagus, dia terus-menerus mendapatkan beasiswa peningkatan prestasi. Lulus pada 1984, dia kemudian pindah mengajar di SMAN 12, dan pindah lagi ke SMAN 13.

Kariernya sebagai PNS mengalami “kecelakaan” ketika dia menolak untuk menjadi anggota Golkar. Pada saat itu, semua PNS memang dipaksa untuk masuk Golkar. Satria menolak untuk mejadi anggota partai ini, karena dia berprinsip bahwa seorang guru sebenarnya adalah sosok “pinandito”, tak boleh bersikap partisan dengan mengikuti golongan atau partai politik tertentu. Sikapnya itu membut dia diskors bertahun-tahun dan dikeluarkan dari tempatnya mengajar.

Tidak patah hati dengan kondisi tersebut, ia justru menggunakan kesempatan tersebut untuk membuka bimbingan belajar bersama dua orang temannya di Surabaya.

Bimbingan tersebut mereka beri nama Airlangga Student Group (ASG) yang mampu menjadi bimbingan belajar terbesar untuk siswa SMP pada saat itu. Bimbingan belajar tersebut bahkan sempat memiliki beberapa cabang di kota-kota di Jawa Timur, seperti di Mojokerto, Madiun, Kediri, Gresik, Jember, dan Pamekasan.

Pada 1990, Satria merasa jenuh dengan apa yang dikerjakannya dan melompat jauh ke pedalaman Kalimantan, mengajar di Bontang International School (BIS) di Kalimantan Timur. Di sini dia mengajar Indonesian Studies pada siswa-siswa asing.

Setelah enam tahun mengajar di sekolah internasional inilah Satria mulai menyadari betapa tertinggalnya kualitas pendidikan nasional kita dibandingkan dengan apa yang dilakukan sekolah-sekolah internasional. Menyadari hal itu, dia bertekad untuk keluar dari sekolah internasional itu dan mendirikan sekolah sendiri.

Pada 1996, keinginannya keluar dari BIS terlaksana. Dia lalu mendirikan Yayasan Pendidikan Airlangga (YPA) di Balikpapan. Dengan wadah yayasan ini, dia berhasil mendirikan beberapa lembaga pendidikan, di antaranya SMP Airlangga, SMK Airlangga, SMKTI Airlangga, Bimbingan Belajar Airlangga, Airlangga College, ASMI Airlangga, dan STMIK STIKOM Balikpapan di dua kota, yaitu Balikpapan dan Samarinda. Tidak puas dengan apa yang dia lakukan di Kalimantan Timur, dia kemudian mengajak beberapa rekannya untuk mendirikan STIKOM Bali di Denpasar, yang sekarang berkembang dengan SMKTI dan juga mengakuisisi sebuah sekolah tinggi di Bandung (Sekolah Tinggi Teknologi Bandung).

Tidak berhenti di situ, Satria kemudian menjajagi profesi lain sebagai konsultan pendidikan di beberapa lembaga, yaitu di Sampoerna Foundation, Provisi Education dan CBE. Profesinya sebagai konsultan inilah yang membuatnya sering harus berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia.

Satria pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan  pada 2003–2006 dan menjadi pelopor program Sekolah Gratis di Balikpapan maupun di Kalimantan Timur. Tulisannya tentang Sekolah Gratis menghiasi koran-koran lokal dan mailing lists pendidikan. Sikapnya ini membuatnya sempat dimusuhi para petinggi di Balikpapan. Tetapi, pada akhirnya usulannya mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Sekolah Gratis menjadi wacana paling populer di masyarakat pada waktu itu, dan saat ini hampir semua kota dan kabupaten di Kalimantan Timur telah mengadopsinya. Saat ini Satria menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI): Satria menikah dengan Ika Padmasari, dan mendapatkan tiga anak, yaitu Muhammad Ayyub Dharma (Yubi), Muhammad Yusuf Dharma (Yufi), dan Tara Nuramalia (Tara).

Kontak: satriadharma2002@yahoo.com

Keunggulan

– Materinya menarik dansegar.
– Disampaikan secara naratif, sehingga pembaca dapat menikmatinya.

 

Display Buku
Rp 48.000
Hemat Rp 7.200
Rp 40.800
Judul Muslim Kok Nyebelin?  
No. ISBN 9786027888685
Penulis Satria Dharma
Penerbit Bunyan 
Tanggal terbit Januari – 2014
Jumlah Halaman 264
Berat Buku -
Jenis Cover Soft Cover
Dimensi(L x P) -
Kategori Referensi Umum
Bonus -
Text Bahasa Indonesia ·
Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter