Pemimpin yang visioner







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Beberapa waktu lalu saya membaca buku biografi Steve Jobs, sang bos Apple dan Pixar. Dia mengingatkan saya pada sebuah arti kepemimpinan. Sebelumyna saya memahami kepemimpinan secara umum adalah kemampuan bersosialisasi yang bagus, “kebisaan” menyuruh (baca halus: memanage) orang, dan hal dasar manajemen dengan teori POAC-nya (planning, organizing, actuating, dan controlling).

Steve Jobs membongkar apa sebenarnya arti kepemimpinan itu. Justru dengan sifat dia yang tidak banyak bergaul, bekerja individual (bukan dalam kelompok), serta sifat introversinya membawa dia pada puncak kepemimpinan yang amat visioner! Bahkan, kepiawaiannya dalam mengelola visi dan hasrat individual, menjadikan Apple dan Pixar sebagai perusahaan terdepan di bidangnya. Sempat Steve tidak di Apple karena dipecat oleh dewan direksi Apple, padahal dia adalah pendiri sekaligus nafasnya Apple. Namun yang terjadi adalah Apple kehilangan visi dan ketidakjelasan masa depan.

Ketika Jobs tidak lagi di Apple, dengan modal yang ada dia mendirikan NeXT yang kemudian menciptakan apa yang namanya NeXTcube (hardware) dan NeXTstep (operating system). Beberapa loyalis Jobs di Apple bahkan mengundurkan diri dari Apple dan bergabung di NeXT, padahal mereka adalah staf ahli Apple. Apple pun mulai goncang kehilangan para ahli mereka. Yang menarik adalah, ternyata WWW yang kita kenal sebagai tempat browsing pertama kali ada dan dibuat di komputer NeXTcube itu. Bahkan, Pixar sendiri yang menggunakan NeXT untuk membuat film animasi Toy Story. Luar biasa!

Beberapa tahun awal para staf NeXT melihat ketidakjelasan di NeXT pula sehingga mengundurkan diri. Dalam rapat pimpinan (rapim) dengan para kepala divisi dan staf ahli, Jobs berkata,”Siapapun disini boleh mengundurkan diri, kecuali saya!” Seolah dia berkata bahwa jika sampai NeXT ataupun Apple kehabisan karyawan, dia sendiri yang akan kerjakan itu, masih banyak orang yang membutuhkan pekerjaan.

Ketika Apple melihat NeXT sebagai pesaing utama yang membahayakan keberadaan Apple, Apple pun mengakuisisi NeXT dan menempatkan kembali Jobs sebagai iCEO (CEO interim-sementara). Namun karena dialah yang menciptakan, mendirikan, dan dia sendiri yang memiliki visi Apple, lama kelamaan pengaruhnya semakin besar di Apple, baik di divisi hardware maupun divisi software. Hingga pada akhirnya, Jobs kembali menjadi CEO permanen.

Sepuluh tahun tanpa kendali yang jelas dari sang CEO menjadikan Apple kehilangan arah dan menuju tenggelam. Kembalinya Jobs menjadikan Apple sebagai perusahaan yang sangat besar dan sahamnya naik lebih dari 20 kali lipat dibanding masa CEO sebelumnya (John Sculley).

Apple menciptakan iPod ibarat brand “Aqua” dan istilah “Indomie” di negara kita, sebuah brand nama barang, bukan lagi merek. Bahkan banyak orang nyebut beli ipod padahal itu player MP3 biasa buatan Cina. Penjualan musik dari program iTunes dan Music Store-nya Apple adalah kedua terbesar di dunia. Bahkan penghasilannya Apple bisa dikatakan separuhnya adalah dari musik (termasuk iPod dan Music Store-nya).

Luar biasanya lagi, MacBook telah menjadi ikon gaya hidup populis. Kita sering lihat di tayangan iklan, film-film, sinetron, dan bahkan sekedar foto yang ada di website Bank Mandiri, Indosat M2, dsb, apabila ada adegan penggunaan komputer atau digital life, hampir selalu ada sebuah Mac disitu. Semua orang kenal dengan laptop bergambar buah apel yang tergigit sedikit di sebelah kanan, berkilau-kilau pula! Lagi-lagi MacBook sendiri di AS tahun 2008-an telah mencapai penjualan hampir separuh dari seluruh penjualan laptop dari seluruh merk!

Cukup sudah berbicara tentang Steve Jobs dan Apple. Hebat, standing applause deh…

Saya menarik kesimpulan tentang seorang pemimpin yaitu bahwa pemimpin:

1. Bukanlah seseorang yang mahir menyuruh-nyuruh orang. Yang seperti ini bukanlah pemimpin sejati, tapi seorang diktator. Kalau ada orang yang sejak dini sudah punya bakat “memimpin” model ini, dia bisa-bisa jadi pemimpin yang kurang disukai karena bisanya menyuruh.
2. Bukanlah seseorang yang ingin di-iyakan terus oleh lawan bicaranya. Ini adalah pemimpin manja dan kanak-kanak. Kalau tidak diiyakan malah bete bahkan sewot.
3. Bukanlah seseorang yang hanya memperhatikan kebutuhan dirinya saja. Ini adalah pemimpin yang egois. Maunya semua beres, serba hangat, serba selesai, kebutuhannya tercukupi, tanpa memperhatikan bahwa orang-orang yang didekatnya pun punya kebutuhan lain.
4. Bukanlah seseorang yang pinta meminta tolong. Orang seperti ini adalah orang yang tidak mandiri untuk menjadi pemimpin. Jika semua bawahannya hilang, maka hancurlah dia.

Tapi, seorang pemimpin haruslah:

1. Seorang yang visioner, memiliki arah yang jelas bagi yang dipimpinnya. Tidak hanya menjadi pemimpin karena membayar sejumlah uang atau dengan menjilat.
2. Seorang yang berkemampuan, yang “pada dasarnya” mampu melakukan semua yang dikerjakan bawahannya. Tapi karena kebutuhan waktu dan tenaga, maka delegasi menjadi jalan satu-satunya.
3. Seorang yang telah menggapai wisdom (bijaksana), yang apabila “diserang” dengan pertanyaan-pertanyaan dari sisi manapun telah bisa menjawab intinya dengan mengena, walaupun tidak secara detail.

Kisah yang sangat menarik untuk dipetik dari perjalanan seorang Steve Jobs dan Apple Inc. Ibarat dalam keluarga, seorang kepala keluarga adalah seorang yang harus memiliki visi yang jelas mau dibawa kemana arah keluarga. Di awal pernikahan pasti yang lebih banyak memiliki visi ke depan adalah dari pihak laki-laki karena laki-laki dalam keluarga memang seharusnya menempati posisi pemimpin.

Di dalam keluarga, seorang pemimpin bukanlah orang yang memikirkan isi perut sendiri, kesenangan sendiri, hobi sendiri, pengasahan intelektual sendiri, keceriaan sendiri, kegalauan sendiri, dan pengelolaan pekerjaan dan waktu sendiri. Terlebih saya sebagai kepala keluarga yang beranak satu, istri tinggal di rumah harus dipikirkan dari segala sisi. Beliau (bersama-sama saya) memutuskan agar beliau tinggal di rumah dan mengurus keluarga adalah keputusan yang berat dan dilematis. Namun sebagai pemimpin keluarga harus mencukupi kebutuhan intelektual, psikis, ruhaniah, aktualisasi diri, pangan, papan, serta pelengkap kebutuhannya sebagai seorang pendidik keluarga. Sebuah laptop, koneksi internet, pelajaran agama, rekreasi, penemuan model aktualisasi yang tepat, diskusi, perumahan, sandang, serta pangan dan perlengkapan rumah tangga haruslah dipenuhi oleh seorang suami (menurut kemampuannya).

Dalam sebuah hadits sebagaimana yang disebutkan oleh seorang ulama ternama yang Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi) dan Malik bin Anas (pendiri mazhab maliki) yang bernama Ja’far, dari Muhammad, dari ‘Ali, dari Husayn, dari Hasan, dari ‘Ali, dari Rasulullah SAWW:

Rumah yang luas dapat menjadi sumber kebahagiaan keluarga.

Bahkan dalam kitab fikih dinyatakan bahwa kewajiban seorang suami adalah memenuhi kebutuhan istrinya di rumah sehingga sang istri betah, serta perlengkapan-perlengkapan penunjang seperti lemari pendingin, AC, televisi, komputer, buku-buku, dan sebagainya, tentunya sesuai dengan kemampuan suami. Rasul memberi contoh bahwa seorang suami harus meringankan pekerjaan istrinya. Selepas pulang kantor, tidak ada salahnya kalau suami membantu pekerjaan rumah. Karena sebetulnya pekerjaan rumah itu sangat melelahkan dan membosankan, sedangkan istri kita berani dan mau mengerjakan itu semua, dan berkorban untuk kemajuan suami serta anak-anaknya. Oleh karena itu, membantu pekerjaanya akan sangat meringankan beban istri di rumah.

Wallahu a’lam bishowab…

http://adampisan.wordpress.com/2009/03/28/pemimpin-yang-visioner/

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter