

Kita bisa melihat peristiwa itu dalam gerak lambat: Seorang perempuan yang ragu-ragu mengetuk pintu rumahnya sendiri. Ada kekhawatiran di hatinya. Lebih mirip sebuah pertanyaan yang diulang-ulang sejak pertama kali ia berniat untuk kembali mendatangi rumah orangtuanya: “Akankah ayah menerimaku kembali?”
Tetapi ia ketuk juga pintu itu. Tiga kali. Sebelum akhirnya suara kunci dibuka dan seorang laki-laki separuh baya muncul dari sebaliknya, “Kamu? Ngapain kamu kesini? Berani-beraninya kamu datang lagi ke sini?” Bentaknya.
Tak ada penjelasan. Perempuan itu hanya bisa menangis. Bibirnya bergetar. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya. “Ayah…” katanya lirih, “Ayah baik-baik saja? Aku kangen ayah…”
Laki-laki itu terdiam beberapa saat. Barangkali perasaan yang sama sedang menyelinap dari balik hatinya, sebelum kebencian kembali melenyapkannya: “Pergi!” Bentaknya sekali lagi, “Sebaiknya kau segera pergi! Aku sudah tak menganggapmu sebagai anakku lagi!”
Perempuan itu terus menangis, deras air mata membanjiri tebing pipinya: Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, bahunya berguncang.
“Bukankah dulu kau lebih memilih menikahi laki-laki Muslim itu daripada tetap menjadi anakku?” Pertanyaan ayahnya kembali mengingatkan perempuan itu pada peristiwa dua tahun lalu: Saat ia memutuskan menikahi seorang laki-laki Muslim yang begitu ia cintai. Keputusan yang begitu menyakitkan tersebab harus menjatuhkannya pada dua pilihan sulit: Merengkuh cintanya atau melepaskan cintanya yang lain?
“Aku mencintainya, Ayah. Sebasar ia mencintaiku.” Jawab perempuan itu dengan suara tercekat, di sela-sela tangisnya.
“Cinta? Itulah yang membuatmu harus pergi dari rumah ini! Kau bukan anakku lagi!” Bentak laki-laki itu.
“Ayah… Cinta jugalah yang membuatku memutuskan untuk mengetuk pintumu sekali lagi. Aku mencintaimu, Ayah, seperti aku juga tahu ayah mencintaiku!” Perempuan itu terus menangis.
Laki-laki itu terdiam beberapa saat, sebelum ia masuk dan menutup pintu rumahnya kembali. “Sebaiknya kau segera pergi!” Laki-laki itu berteriak dari balik pintunya yang tertutup.
Si perempuan, sambil terus menangis, sekali lagi harus pergi dari rumah itu–dengan perasaan yang tak mungkin dijelaskan: Angin bertiup perlahan, mengangkat helai-helai halus rambutnya. Tetapi ia berusaha melambatkan langkahnya, ia selalu berharap ayahnya akan membuka pintu dan memanggilnya kembali: Untuk sebuah pelukan. Aku akan selalu menjadi peragu, katanya dalam hati, sedikitpun aku tak akan pernah menyakini bahwa ayah tak akan menerimaku kembali.
Di dalam rumah, sambil bersandar ke pintu yang baru saja ia tutup kembali untuk putri kesayangannya, si laki-laki sekali lagi menangis: Entah untuk keberapa kalinya. Betapa berat ia yang harus berdiri di atas kenyataan bahwa apa yang ia yakini herus memisahkannya dari putri yang sangat ia cintai. Tuhan, haruskah aku meragukan semuanya? Demikian ia selalu berdoa: Aku ingin merayakan keyakinan yang bisa membukakan pintu maafku untuk kembali mendekap putri kesayanganku…
Maka ia buka kembali pintu yang baru saja ia kunci, sambil membayangkan senyum putrinya yang ia cintai: Dan di sanalah cinta membongkar batas-batas keyakinan–
“Patricia!” Laki-laki itu memanggil nama putrinya lagi. Sayangnya, tak ada jawaban. Tak ada jawaban. Hanya angin dan isak yang tertahan.
Ia tahu kini semuanya sudah terlambat, tetapi kelegaan merambati hatinya: “Mulai hari ini, aku akan menjadi peragu,” katanya, “Aku tak akan pernah meyakini bahwa Patricia tak akan kembali ke rumah ini lagi.”
***
Demikianlah cerita itu dikisahkan. Seperti banyak orang mengalaminya dalam detil kenyataan yang berbeda. Kini, kita bisa melihat peristiwa itu, sekali lagi, sambil menghayati sebaris kalimat sakti yang pernah dituliskan Amin Maalouf: Jika keyakinan mengajarkan kebencian, terberkatilah orang-orang yang meragu.
Read more: http://www.fahdisme.com/2012/06/ragu.html#ixzz1y6c5JKLC





Kategori : 














