Stimulasi dini pada anak : Kiat mengembangkan kecerdasan majemuk, kemandirian dan kreativitas







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Bapak Ariel dan ibu Lia adalah sebuah contoh keluarga muda yang baru mempunyai seorang anak laki-laki yang berusia 3 tahun bernama Rio. Sang suami bekerja sampai sore, istri membaktikan dirinya sebagai ibu rumah tangga untuk membesarkan anak terkasihnya. Sebagai orang tua keduanya meyakini bahwa urusan anak adalah tanggung jawab bersama. Pak Ariel tidak melulu hanya pencari nafkah, tapi selepas kerja atau sewaktu libur selalu menyempatkan berinteraksi dengan anak. Sebagai ayah, ia mau meluangkan waktu menjadi teman bermain bagi Rio, sang anak.

Ketika si kecil baru lahir baik pak Ariel dan bu Lia sering mengajak ngobrol bayinya yang masih merah. Ketika disusui oleh ibunya atau ketika ditimang ayahnya, suara ke dua orang tuanya yang merdu sering membuat Rio kecil sampai tertidur. Ketika Rio bisa merangkak dan menjangkau apa saja, pak Ariel dengan sigap menyimpan koleksi keramiknya di gudang, lingkungan rumah dibikin seaman dan senyaman mungkin untuk anaknya bereksplorasi. Ketika usia bertambah, koleksi mainan Rio makin bertambah tapi pak Ariel dan bu Lia selalu memberikan alat permainan edukatif sebagaimana yang dianjurkan pakar perkembangan anak. Terakhir pak Ariel membelikan buku bacaan buat Rio tapi isinya lebih banyak gambar yang berwarna warni karena Rio sangat senang didongengkan oleh kedua orang tuanya. Ketika sekarang Rio sudah usia 3 tahun, sewaktu ia mandi dibiarkan untuk menciduk airnya sendiri, ketika makan ia dipersilahkan menyuapi sendiri walaupun nasinya jadi berantakan kemana-mana. Kalau Rio mau pipis selalu diingatkan untuk bilang pada orang rumah dan diantarkan ke toilet. Saat bersama nonton tivi, selalu yang ditonton adalah tayangan yang pantas, begitu pula ketika minta diputarkan vcd atau dvd. Berhubung dia sudah senang mencoret-coret, disediakan banyak kertas gambar dan crayon untuk menyalurkan ‘hobby’nya itu.

Waktu libur adalah waktu yang menyenangkan bagi Rio, karena orang tuanya acapkali membawanya jalan-jalan dari mulai ke kolam renang, tempat rekreasi, pasar atau mall, kebun binatang, taman safari, bahkan pernah dirinya diajak orang tuanya ke museum dan pameran lukisan di sebuah galeri. Sekali waktu pernah juga Rio diajak melihat pentas seni, dia senangnya nonton band apalagi kalau ada penyanyi cilik idolanya.

Dalam hal yang lain, Rio sering diajak ikut sholat berjamaah bersama kedua orang tua dan pengasuhnya di rumah. Walau sering jalan kesana kemari sewaktu sholat atau kadang-kadang malah tiduran di sajadah, orang tuanya membiarkannya karena yang penting bagi Rio adalah pengenalan ibadah kepada Tuhan.

Untuk mengenalkan kebaikan kepada sesama, orang tua Rio pernah merayakan ulang tahun Rio bersama dengan para anak yatim di sebuah panti asuhan. Di tempat tersebut Rio dengan suka cita membagikan makanan dan kue serta hadiah ulang tahun kepada mereka yang tak berpunya.

Begitulah sekelumit cerita tentang pak Ariel dan bu Lia dalam membesarkan anaknya. Keduanya faham benar selain anak memerlukan gizi yang baik, imunisasi yang selengkap mungkin, sang anak butuh stimulasi sedini mungkin dan tauladan sedini mungkin.

Cerita tadi adalah sebuah ilustrasi untuk menggambarkan sebuah keluarga yang sedang berproses menjadi orang tua yang baik dan bertanggung jawab terhadap anaknya. Membicarakan masalah anak selalu menekankan pada dua aspek yaitu aspek pertumbuhan dan aspek perkembangan. Pertumbuhan yang optimal akan mendukung perkembangan anak yang optimal pula. Adalah kewajiban orang tua untuk memfasilitasi tumbuh kembang anaknya secara optimal. Sementara itu adalah hak seorang anak untuk mendapat kesempatan tumbuh kembang secara layak. Karena itu para orang tua diharapkan mengetahui persis kebutuhan anak sejak masih dalam kandungan dan memenuhinya dengan penuh tanggung jawab.

Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan anak?
Pertumbuhan anak terkait dengan peningkatan ukuran tubuh sesuai dengan umurnya. Pengukuran yang sering dipakai sebagai indikator adalah : panjang/ tinggi badan, berat badan dan ukuran lingkar kepala. Banyak faktor yang menentukan pertumbuhan seorang anak baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internal antara lain : genetik/bawaan (ayah, ibu, nenek, kakek) dan proses selama kehamilan. Sementara itu faktor eksternal antara lain : penyakit, nutrisi (gizi), polusi dan aktivitas fisik.

Pertumbuhan anak mengikuti fase sesuai kronologis umur, ada fase dimana anak bertumbuh dengan cepat kemudian melambat dan kembali tumbuh cepat ketika seorang anak menjelang remaja. Kurva pertumbuhan anak di KMS secara sederhana dan praktis bisa dipakai, tapi pengukuran yang lebih detail biasa dipakai kurva CDC-NCHS yang diakui secara internasional. Ploting pada kurva tesebut dapat dipakai sebagai petunjuk untuk menilai status pertumbuhan anak.
Pengukuran lingkar kepala anak sampai 1 tahun pertama penting karena berhubungan dengan perkembangan volume otak atau penyakit yang berhubungan dengan otak. Hasil pengukuran lingkar kepala dapat berupa normosefali (ukuran rata-rata normal), makrosefali (lebih besar dari rata-rata ukuran normal) dan mikrosefali (lebih kecil dari ukuran rata-rata normal). Pada anak yang mikrosefali sering berkaitan dengan keterlambatan perkembangan dan keterbelakangan mental. Dengan mengetahui secara dini hal tersebut orang tua diharapkan dapat memberikan perlakuan atau stimulasi sesuai keadaan sang anak.

Lalu apa pula yang dimaksud dengan perkembangan anak ?
Perkembangan seorang anak terkait dengan peningkatan fungsi individu dari berbagai aspek antara lain: sensorik, motorik, kognitif, komunikasi (berbahasa), emosi-sosial, kemandirian, kreativitas, kerjasama/kepemimpinan, etika, budi-pekerti dan moral spiritual. Faktor penentu perkembangan anak dapat berupa faktor internal yaitu faktor genetik dan proses sejak kehamilannya, sementara faktor eksternal antara lain: gizi, penyakit, kualitas pengasuhan/keluarga maupun lingkungan. Kesemua faktor tersebut berperan positif selama kebutuhan dasar perkembangan anak tercukupi.

Apakah kebutuhan dasar untuk proses perkembangan anak ?
Setidaknya ada 3 kebutuhan dasar untuk mengembangkan kecerdasan, kemandirian dan kreativitas pada anak:

* Kebutuhan fisis-biologis (asuh)
* Kebutuhan kasih sayang (asih)
* Kebutuhan stimulasi (asah)

Apa saja kebutuhan fisis-biologis seorang anak ?
Pemberian nutrisi/gizi seimbang, imunisasi dasar yang lengkap, kebersihan badan maupun lingkungan, pengobatan dini, kesempatan berolah raga, bermain/ berekreasi dan sebagainya adalah upaya pemenuhan kebutuhan fisis biologis bagi anak. Pemenuhan kebutuhan fisis bilogis pada anak mempengaruhi kualitas perkembangan anak. Anak dengan gizi buruk sulit untuk menerima stimulasi yang diberikan. Anak yang mempunyai gejala sisa atau sequele dari penyakit radang otak yang pernah dideritanya membuat anak terbelakang/terlambat perkembangannya. Anak yang menderita polio dan lumpuh membuat si anak menjadi terbatas kemampuannya untuk berlatih olah raga dan menari.

Bagaimana memenuhi kebutuhan kasih sayang-emosi pada anak ?
Pemenuhan kebutuhan kasih sayang dapat dilakukan oleh orang tua dengan antara lain: menciptakan rasa aman/ nyaman/ dilindungi, diperhatikan (minat, keinginan dan pendapat), diberi contoh (bukan dipaksa), dibantu, didorong, dihargai, penuh kegembiraan, dan mengkoreksi bila anak berbuat salah, tapi bukan ancaman atau hukuman. Kondisi seperti ini dapat terpenuhi oleh orang tua yang menjalani pola asuh yang demokratik. Hasil pengasuhan seperti ini diharapkan akan meningkatkan kecerdasan emosional, kemandirian, kreativitas dan kerjasama/kepemimpinan.

Bagaimana penjelasan tentang pentingnya stimulasi pada anak ?
Stimulasi akan merangsang hubungan antara sel otak (sinaps) dimana diketahui milyaran sel otak telah dibentuk sejak janin dalam kandungan (usia kehamilan ibu 6 bulan) tapi belum ada hubungan antara sel otak satu dengan yang lainnya. Dengan dilakukan rangsangan/stimulasi sejak dini, maka terbentuk hubungan di antara sel otak tersebut (sinaps). Makin sering dirangsang makin kuat hubungan tersebut. Makin banyak variasi, hubungan makin kompleks yang merangsang sel otak kiri maupun kanan dan pada akhirnya menghasilkan kecerdasan majemuk, kecerdasan yang lebih luas dan tinggi.

Apa saja stimulasi yang harus diberikan, bagaimana caranya dan kapankah waktunya ?
Stimulasi diberikan pada seluruh aspek perkembangan anak yaitu sensorik, motorik, kognitif, komunikasi-bahasa, sosio-emosional, kemandirian, kreativitas, kerjasama, kepemimpinan dan moral-spiritual.
Cara atau metode stimulasi bermacam-macam, antara lain dengan rangsangan suara, musik, gerakan, perabaan, bicara, menyanyi, bermain, memecahkan masalah, mencoret-coret, menggambar dsb.
Kegiatan stimulasi tak mengenal waktu karena dilakukan setiap kali berinteraksi dengan anak seperti: waktu makan, memandikan, berganti pakaian, ketika dalam perjalanan, bermain di dalam mobil, nonton tv sebelum tidur dan lain-lain.

Apakah prinsip-prinsip stimulasi yang harus kita ketahui ?
Prinsip stimulasi (perangsangan/ bermain/ latihan) antara lain :

* Setiap hari dan setiap berinteraksi.
* Suasana nyaman dan timbulkan rasa aman.
* Suasana bermain (fun), gembira dan penuh kasih sayang.
* Tidak tergesa-gesa dan tidak memaksa.
* Berikan contoh dan dorongan untuk mencoba.
* Bervariasi sesuai dengan minat dan kemampuan anak.
* Beri pujian bila berhasil, sekecil apapun keberhasilannya.
* Koreksi bila belum bisa dan bukan hukuman.

Apa saja yang mempengaruhi pemberian kasih sayang dan stimulasi pada anak?
Pemberian kasih sayang-emosi dan stimulasi ini terutama dipengaruhi oleh 2 hal yaitu pola pengasuhan keluarga dan karakter si anak. Dikenal 4 macam pola pengasuhan keluarga:

* Pola asuh demokratik (autoritatif) : orang tua mendidik anak dengan demokratis sehingga dapat menjalankan prinsip stimulasi.
* Pola asuh diktator (otoriter) : orang tua mendidik anak dengan banyak larangan dan aturan yang kaku, sering menghukum yang dapat menimbulkan child abuse (pencederaan pada anak).
* Pola asuh permisif : orang tua mendidik dengan aturan yang longgar, cenderung membolehkan semua keinginan anak. Akibatnya anak menjadi manja dan tidak disiplin.
* Pola asuh ‘tidak peduli’ (cuek) : orang tua tidak mau peduli dengan pertumbuhan dan perkembangan anak yang berakibat pada penelantaran anak (neglect). Dari keempat macam pola pengasuhan tadi, pola asuh demokratiklah yang dapat menjalankan prinsip stimulasi dengan benar. Bagaimana pola asuh demokratik itu? Penjelasannya ada pada pembahasan selanjutnya.

Sementara itu secara umum dikenal 3 temparamen anak : easy (penurut), difficult (susah diatur) dan slow to warm up (pemalu). Dengan mempertimbangkan karakter anak, keluarga dihadapkan pada dinamika tiap anak yang berbeda. Tidak masalah dengan anak yang mempunyai karakter easy (penurut), tetapi pada anak yang berkarakter difficult (susah diatur) dibutuhkan ekstra kesabaran, penerapan disiplin yang khusus, pemberian hukuman yang tepat dan menghindari kekerasan fisik maupun psikis pada anak. Pada anak dengan masalah khusus seperti ini orang tua dianjurkan berkonsultasi dengan psikolog anak atau psikiater anak. Demikian pula dengan anak yang slow to warm up (pemalu), orang tua hendaknya tidak bosan mendorong anak untuk berani tampil di muka umum, berkomunikasi aktif dengan orang sekitarnya dan selalu memberikan pujian atas keberanian sekecil apapun. Hindari pelabelan pada anak dengan mengatakan ‘dasar si pemalu, kuper’ dan sebagainya.

Stimulasi apa yang harus orang tua lakukan terhadap sang anak dan sejak kapan dilakukan ?
Stimulasi pada anak harus dilakukan sejak dini bahkan sejak masih dalam kandungan (ingat dengan anjuran untuk mendengarkan alunan musik klasik dan alunan ayat suci yang ditempelkan pada perut ibu yang sedang hamil). Selanjutnya stimulasi dilakukan sesuai umur anak dimulai dengan stimulasi yang sederhana dan makin lama makin kompleks/ beragam. Berikut beberapa tips untuk memandu orang tua menstimulasi sang buah hati.

Stimulasi/ rangsang/ bermain pada umur 0-3 bulan :
Ciptakan rasa nyaman, aman, senang, berikan ASI (tatap matanya), peluk, gendong, cium, gusel, gulingkan, tatap matanya, ajak bicara, ajak tersenyum, bunyikan suara musik, bersenandung ketika sedang menggendong, menggantung benda berwarna-warni dan berbunyi, menggulingkan kanan-kiri serta menengkurapkan.

Stimulasi pada umur 3-6 bulan :
Stimulasi 0-3 bulan ditambah : bermain ciluk ba, melihat wajah di cermin, dirangsang tengkurap-telentang, bolak-balik dan dicoba untuk didudukkan.

Stimulasi pada umur 6-9 bulan :
Stimulasi 3-6 bulan ditambah : memanggil namanya, mengajak bersalaman, mengajak tepuk tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk dan berdiri pegangan.

Stimulasi pada umur 9-12 bulan :
Stimulasi umur 6-9 bulan ditambah : mengulang kata seperti mama, papa, kaka, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, melatih berdiri dan jalan berpegangan.

Stimulasi pada umur 12-18 bulan :
Stimulasi umur 9-12 bulan ditambah : mencoret-coret, menyusun kubus/ puzzle, masuk keluarkan benda kecil dari wadah, bermain boneka/ sendok/ piring/ gelas, latih berjalan tanpa pegangan, berjalan mundur, panjat tangga, menendang bola, melepas celana, melakukan perintah sederhana, menunjuk benda yang disebutkan dan menyebutkan nama benda yang ditunjuk.

Stimulasi pada umur 18-24 bulan :
Stimulasi umur 12-18 bulan ditambah : menanyakan/ menyebutkan/ menunjuk bagian tubuh, menanyakan/ menyebutkan nama gambar atau benda, mengajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum, mandi, bermain dll), menggambar garis, cuci tangan, memakai celana/ baju, melempar bola dan melompat.

Stimulasi pada umur 2-3 tahun :
Stimulasi umur 18-24 bulan ditambah : menyebut warna yang ditunjuk, menyebutkan kata sifat (besar, kecil dsb), menyebutkan nama teman/ saudara, menghitung jumlah benda, pakai baju, sikat gigi, buang air besar dan kecil di kakus, main kartu/ boneka/ masak-masakan dan berdiri pada satu kaki.

Stimulasi umur > 3 tahun :
Stimulasi umur 2-3 tahun ditambah : memegang pinsil dengan baik, mengenal huruf/ angka sambil bermain, berhitung sederhana, buang air kecil/besar di kakus, mandiri (misal : ditinggal di sekolah), berbagi dengan teman/ saudara.
Semua stimulasi yang dilakukan sejak dini bertujuan untuk merangsang baik bagian otak kiri maupun kanan. Otak kiri dan kanan mempunyai pembagian ‘tugas’ masing-masing. Berdasar penelitian para ahli neurologi diketahui bahwa otak kiri mempunyai tugas/karakter sebagai berikut : konvergen (menyempit) terkait dengan logika matematik, rasionalitas, tata bahasa/ membaca/ menulis. Sementara otak kanan : divergen (melebar/ meluas) terkait dengan imajinasi, kreativitas seni, musik/menyanyi dan moral spiritual.
Kerjasama otak kanan dan kiri akan mengoptimalkan potensi kecerdasan anak dan menjadikan anak dengan kecerdasan multipel.

Apa sajakah potensi kecerdasan pada anak ?
Ragam potensi kecerdasan anak meliputi 5 hal yaitu:

1. Potensi spiritual : mampu menghadirkan Tuhan dalam setiap aktifitas, kegemaran beramal di jalan Tuhan, disiplin beribadah, sabar dalam berupaya, berterima kasih/ bersyukur kepada Tuhan.
2. Potensi perasaan/ emosional : mengendalikan emosi, mengerti perasaan orang lain, senang bekerja sama, menunda kepuasan sesaat dan berkepribadian yang stabil
3. Potensi akal : kemampuan berhitung, verbal, spasial, kemampuan membedakan dan membuat daftar prioritas.
4. Potensi sosial : senang berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain, menolong, berteman, membuat orang lain senang dan dapat bekerja sama (kooperatif).
5. Potensi jasmani : sehat secara medis, tahan segala cuaca dan tahan berkerja keras (ulet, tahan banting).

Lalu apakah yang dimaksud dengan kecerdasan multipel (majemuk) ?
Selama ini kecerdasaan seorang anak diukur dengan tes intelegensi yang dibuat oleh pakar psikologi seperti Wechsler dan Stanford–Binet. Keduanya telah menciptakan perangkat pengukuran kecerdasaan yang hasilnya dikenal sebagai IQ (Intelligence Quotient). Hanya saja tes tersebut cuma mengukur kemampuan anak di bidang matematika, logika dan verbal linguistik sesuai umur kronologisnya. Hasil tes tersebut terkesan diskriminatif dan membagi seorang anak dalam 3 golongan : cerdas, rata-rata dan ‘bodoh’ (dibawah rata-rata). Paradigma bahwa kecerdasan seorang anak dilihat dengan melihat hasil tes IQ berlangsung cukup lama dan diterapkan juga pada praktik pengajaran di sekolah. Sekolah formal lebih mementingkan pelajaran yang mengandalkan kecerdasan matematis dan verbal saja seperti matematika, ilmu pengetahuan alam (kimia, fiska, biologi) dan bahasa.
Pakar psikologi Dr.Howard Gardner mengubah perspektif mengenai kecerdasan. Menurut beliau kecerdasan tidak lagi hanya kemampuan menghitung (kecerdasan logika-matematika) dan menggunakan bahasa (kecerdasan linguistik) tapi juga mencakup aspek-aspek yang lain. Ada 9 aspek atau dimensi kecerdasan seseorang yang dikenal sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligence) yaitu :

1. Kecerdasan berbahasa verbal (verbal-linguistic)
2. Kecerdasan logika-matematik (logical-mathematical
3. Kecerdasan visual spasial (visual-spatial).
4. Kecerdasan gerak tubuh (bodily-kinesthetic).
5. Kecerdasan musikal (musical).
6. Kecerdasan intrapersonal.
7. Kecerdasan relasi interpersonal.
8. Kecerdasan naturalis (naturalist).
9. Kecerdasan spiritual.

Bagaimana mengembangkan kecerdasan majemuk?
Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk untuk mengembangkan kecerdasan majemuk tsb. Tugas orang tua adalah sedapat mungkin mengembangkan secara dini semua aspek kecerdasan. Sangat mungkin seorang anak tidak menonjol pada seluruh aspek, tapi setidaknya orang tua telah memfasilitasinya. Selanjutnya kita sebagai orang tua mengetahui sang anak berbakat atau menonjol pada bidang tertentu dan kurang menonjol pada bidang yang lain. Sebagai orang tua kita harus bijak menyikapi dan tidak memaksakan keinginan. Anak harus diberikan kesempatan berkembang sesuai dengan potensi kecerdasan yang dimiliki. Seorang yang jago berbahasa asing sama baiknya dengan dengan yang jago matematik atau fisika. Anak yang jago menyanyi bisa menjadi penyanyi profesional, anak yang jago musik bisa menjadi pemusik profesional, jago olah raga bisa menjadi olahragawan profesional. Sementara anak yang jago menggambar bisa menjadi pelukis terkenal atau ahli desain grafis yang bayarannya mahal. Anak yang pandai bergaul (memiliki kecerdasan interpersonal) bisa jadi kelak dia menjadi politisi yang ulung atau pebisnis yang tangguh. Anak cerdas atau pintar jangan selalu diukur dari kepintarannya di bidang matematik atau berhitung saja. IQ tak menjadi satu-satunya patokan kesuksesan hidup anak!
Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua untuk menumbuhkan 9 aspek kecerdasan tadi.

Kecerdasan berbahasa verbal ( verbal linguistic).
Kemampuan untuk menggunakan bahasa secara efektif, mengerti kata-kata serta nuansa makna kata. Banyak orang besar dan tokoh dunia yang punya kelebihan dalam aspek kecerdasan ini. Contoh : Oprah Winfrey, Jhon F Kennedy, bung Karno, Aa Gym, Zainudin MZ dll.

Upaya untuk mengembangkannya antara lain :

* Berkomunikasi dengan anak sejak bayi dan sering diajak bercakap-cakap.
* Membiasakan bercerita atau mendongeng dalam keluarga.
* Menyediakan buku bacaan sesuai umur anak.
* Merangsang anak menceritakan kembali apa yang sudah dibacanya.
* Bermain permainan kata-kata seperti scrabble.
* Jangan memotong cerita anak.
* Menyanyikan lagu dan membahas isi syair lagu.
* Memberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bahasa lisan atau tulisan ( misal : kursus/les bahasa)

Bidang kerja : menulis, editing, menerjemahkan, penulisan naskah pidato, mc/ host acara, presenter, penceramah/ dai dsb.

Kecerdasan logika matematik (logical mathematical).
Kemampuan dalam bidang sains, memecahkan masalah secara logis terutama dalam matematik (berhitung). Contoh tokoh yang menonjol dalam bidang ini antara lain: Aristoteles, Isac Newton, Rene Descartes, Habibie dll.
Upaya untuk mengembangkannya antara lain :

* Mengelompokkan benda-benda atau mainan.
* Menyusun, merangkai dan menghitung mainan.
* Bermain ular tangga, halma atau congklak.
* Bermain sempoa, catur dan kartu (kuartet).
* Bermain tebak-tebakan dan merangkai puzzle.
* Bermain monopoli dan game komputer.
* Mengerjakan tugas-tugas matematik.
* Berlatih berhitung dengan memanfaatkan benda di lingkungan sekitar.
* Melatih anak untuk menabung dan mengelola keuangannya sendiri.
* Membayar sendiri barang yang dibelinya dan menghitung uang kembalian.

Bidang kerja : ahli sains, peneliti, dokter, ahli matematik/ statistik, bisnis dsb.

Kecerdasan visual spasial (visual spatial).
Kamampuan untuk menemukan lokasi (jalan, tempat), memperkirakan hubungan antar benda dalam ruangan, mampu memperhatikan detail dari apa yang dilihat dan membayangkan serta memanipulasi obyek visual di dalam benaknya.
Darwis Triadi yang fotografer, Basuki Abdullah yang pelukis atau Nyoman Nuarta yang pematung adalah beberapa contoh orang yang dianugrahi kecerdasan visual spasial.
Upaya untuk mengembangkannya antara lain :

* Mengamati gambar/ foto dengan mengajak anak ke pameran lukisan atau foto.
* Merangkai dan membongkar lego.
* Menggunting, melipat, menempel dan merobek.
* Memberi kesempatan mengekspresikan diri melalui menggambar.
* Mengenal pola dan bentuk dengan memperhatikan benda di dalam rumah dan sekitar lingkungan rumah.
* Bermain rumah-rumahan.
* Bermain halma, puzzle dan game komputer.

Bidang kerja : arsitektur, pelukis, fotografer, pematung, pengrajin seni, navigator, planologi kota, desain furniture dsb.

Keterampilan/ kecerdasan gerak tubuh (bodily-kinesthetic).
Kemampuan untuk bergerak dengan ketepatan (presisi) dan menggunakan keterampilan tubuh. Orang-orang semacam David Beckham, Michael Schumaher, Rudi Hartono, Vicky Burki, Bagong Kusudiardjo adalah contoh mereka yang dianugerahi keterampilan gerak tubuh yang menonjol.
Upaya untuk mengembangkannya antara lain :

* Membuat lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak bereksplorasi.
* Berdiri satu kaki, jongkok, membungkuk, berjalan di atas satu garis.
* Berlari, melompat, melempar dan menangkap.
* Memberikan kesempatan anak untuk melakukan pekerjaan sederhana sesuai umurnya.
* Mengajak bermain anak, jalan jalan pagi atau sore hari.
* Memberikan kebebasan bergerak pada tempat atau lapang yang luas.
* Berlatih senam, menari, olah raga permainan dan bela diri.
* Bila anak tampil dalam pentas seni atau bertanding olah raga atau kesenian sempatkan menontonnya dan selalu memujinya paling tidak atas keberaniannya tampil di muka umum.

Kecerdasan musikal (musical)
Kemampuan untuk memahami/ menciptakan musik dan memiliki apresiasi terhadap musik. Mozart, Beethoven, Mariah Carey, Idris Sardi dan Erwin Gutawa adalah contoh mereka yang punya kecerdasan musikal dan menjadi besar karena keahliannya tersebut.
Upaya untuk mengembangkannya antara lain :

* Menyediakan alat mainan yang berbunyi.
* Orang tua bersenandung ketika anak ada di pangkuan.
* Mendengarkan musik dan lagu yang bervariasi.
* Mengajak anak menonton pertunjukan musik, baik di televisi atau langsung.
* Menyanyikan lagu, mengikuti irama dan nada
* Memberi kesempatan berlatih olah vokal dan alat musik (gitar, piano, biola, marching band dsb).
* Jika ada kesempatan tampil bermusik atau bernyanyi, berikan dorongan dan pujian.

Bidang kerja : penyanyi, pemusik, pencipta lagu, komposer, konduktor dsb.

Kecerdasan interpersonal
Kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain, mampu mengenali perilaku orang lain dengan jeli. Tokoh masyarakat seperti Prof Dr. Dadang Hawari, Ali Alatas (diplomat kawakan, mantan Menlu), kak Seto Mulyadi, WS Rendra, Jeffry Al Buchori adalah contoh mereka yang punya kecerdasan interpersonal.

Upaya untuk mengembangkannya antara lain :

* Bermain dengan anak yang lebih muda maupun yang lebih tua.
* Saling berbagi kue/makanan dengan teman atau saudaranya.
* Mengalah dan meminjamkan mainan.
* Bekerjasama membuat sesuatu (kerja kelompok).
* Permainan mengendalikan diri (seperti ‘petak umpet’)
* Mengenali anggota keluarga dan teman-temannya.
* Mengenalkan berbagai suku, budaya, adat istiadat dan agama
* Orang tua mengungkapkan rasa sayangnya secara terbuka.
* Membiasakan anak untuk bertemu dengan banyak orang dan mendorongnya untuk berani berinteraksi dengan orang lain.
* Melatih diri untuk berpisah tanpa rasa cemas (misal : ketika anak mulai bersekolah di TK/SD)

Kecerdasan intrapersonal
Kemampuan untuk memahami dirinya sendiri, keberadaan dirinya dan mengenali perasaan, motif/ dorongan yang dimiliki pribadi.
Upaya untuk mengembangkannya antara lain:

* Orang tua menimang bayinya dengan lembut.
* Memberikan pujian, tepuk tangan dan sorakan untuk setiap keberhasilan sekecil apapun.
* Menghargai perasaan anak dan memperlakukannya sebagai pribadi yang utuh.
* Menyalurkan ungkapan perasaannya secara tepat.
* Menceritakan perasaan, keinginan dan cita-cita.
* Menceritakan pengalaman yang berkesan.
* Berkhayal, mengarang cerita atau membuat catatan harian (diary)
* Memberi kesempatan anak bertukar pikiran sesuai kapasitasnya.

Bidang kerja : konselor, psikiater, pemimpin agama/ rohaniawan dsb.

Kecerdasan naturalis
Kemampuan untuk membedakan spesies baik flora maupun fauna di alam raya, mengenal dan memahami alam lingkungan.
Upaya untuk mengembangkannya antara lain:

* Menanam biji hingga tumbuh dan mengamati setiap tahapannya.
* Berkebun, memelihara tanaman atau hewan.
* Berwisata di hutan, gunung, sungai atau pantai.
* Mengunjungi taman safari/kebun binatang dan kebun raya.
* Mengamati langit, awan, bulan, bintang dan mengunjungi observatorium.
* Membahas kejadian–kejadian alam: hujan, angin, banjir, gunung meletus, gempa bumi, siang, malam dll.

Bidang kerja : berburu, penjelajah, ahli biologi, berternak, berkebun/ bertani dsb.

Kecerdasan spiritual.
Kepekaan anak memahami keberadaan dirinya dan relasi dirinya dengan Tuhannya. Menyadari bahwa hidupnya bagian dari rencana Tuhan untuk kebaikan seluruh umat-Nya dan kemuliaan Tuhan.
Upaya untuk mengembangkannya antara lain:

* Biarkan anak melihat orang tua melakukan ritual agama (ibadah).
* Mengajak anak ikut beribadah.
* Biarkan anak menyaksikan kedekatan hubungan orang tua dengan Tuhan.
* Membiasakan ibadah bersama dalam keluarga.
* Membiasakan anak ikut dalam kegiatan amal sosial (berzakat, sedekah atau menyantuni kaum duafa).
* Melatih anak membangun komunikasi personal dengan Tuhan. Kecerdasan spiritual selayaknya dimiliki oleh setiap individu dengan berbagai profesi yang ditekuninya.

Selain berbagai kecerdasan tadi, anak diharapkan mempunyai sifat mandiri dan kreatif. Dengan begitu anak akan menjadi individu yang matang dan siap menjalani kehidupan yang kian hari kian kompetitif dan penuh dengan tantangan.

Bagaimana mengembangkan kemandirian dan kreativitas anak? Apa hubungannya dengan pola asuh demokratik ?
Orang tua lagi-lagi sejak dini sudah mendorong/merangsang anak untuk mandiri dan kreatif. Hal tersebut hanya bisa dipenuhi bila orang tua mempunyai pola asuh demokratik (otoritatif) dengan ciri-ciri sebagai berikut:

* Mau mendengarkan dan menghargai pikiran anak.
* Mendorong anak berani mengemukakan pendapat dan tidak melecehkan pendapat anak.
* Tidak memotong pembicaraan anak.
* Tidak memaksa, jauhi pandangan bahwa pendapat orang tua adalah paling benar.
* Tidak mengancam atau selalu menghukum: berikan koreksi, berikan contoh dan ajak berfikir serta bukan ‘mendikte’.
* Biarkan mereka memperbaiki pendapatnya.
* Mendorong keberanian, mengekpresikan ide/gagasan untuk melakukan sesuatu.
* Mendorong kemandirian untuk melakukan atau mencoba sesuatu, menghargai usaha yang telah dicapai.
* Memberikan pujian untuk prestasi sekecil apapun.
* Merangsang mengamati/ mempertanyakan benda/ kejadian di sekeliling.
* Jangan menolak atau menghentikan rasa ingin tahu anak.
* Biarkan anak berkhayal, merenung, mewujudkan gagasan dengan cara masing-masing.
* Jangan melarang tanpa alasan, mendikte, mencela, mengecam atau membatasi anak.
* Berilah kebebasan, kesempatan, dorongan, penghargaan, pujian untuk menyatakan atau mencoba gagasannya, selama tidak membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Dapatkah kita mengenali ciri-ciri anak cerdas dan kreatif ?
Kita dapat mengenali anak cerdas dan kreatif dengan memperhatikan ciri-ciri sebagai berikut :

* Wajahnya cerah dan berfisik dinamis : anak selalu cerah, tidak kelihatan murung, stress atau dingin dalam bergaul. Anak mirip olahragawan atau atlit.
* Berminat luas dari mulai musik, mata pelajaran, politik, olah raga dsb : anak tidak hanya pandai dalam mata pelajaran tapi juga ‘jago’ menyanyi, olah raga, senang diskusi politik, seni dan minat-minat lain. Istilah anak muda sekarang menjadi anak yang ‘gaul’ (dalam arti positif).
* Sering bertanya yang berbobot : pertanyaan anak seperti ini sering merepotkan guru ataupun orang tua dan jarang direspon dengan hal-hal yang bisa dikembangkan lebih baik. Televisi, koran, majalah dan internet adalah hal yang sudah familiar pada anak seperti ini.
* Selalu ingin tahu atau mendapat penjelasan yang logis/ilmiah : jawaban yang ‘asal’ atau biasa-bisa saja dari orang tua atau guru tidak memuaskan si anak.
* Tidak berbatas tembok status : bertanya/berdiskusi dengan guru atau orang yang lebih tua tidak canggung bagi anak yang kreatif.
* Berani mengambil resiko : gembira bila tindakan benar dan terus bangkit bila salah.
* Mempunyai banyak alternatif untuk mencari solusi : anak dikenal sebagai ‘si banyak akal’.
* Tidak cepat puas, hampir selalu ingin sempurna : hasil pekerjaan yang tidak optimal membuat si anak bertanya kenapa dan berusaha memperbaikinya agar sempurna.
* Berani tampil beda : kegemaran untuk berbeda dengan anak lain atau membuat sesuatu menjadi berbeda.
* Senang menggali pengetahuan : tidak terbatasnya sumber pengetahuan membuat anak giat menggali sumber pengetahuan yang ada.
* Mempunyai gagasan orisinal : gagasan yang baru dan tidak terduga merupakan ciri anak yang kreatif.

Faktor apa yang terpenting dalam proses tumbuh kembang anak ?
Semua kebutuhan dasar sama pentingnya baik kebutuhan fisik biologik (asuh), kebutuhan emosi-kasih saying (asih) dan kebutuhan stimulasi/rangsangan/bermain (asah). Ketiga kebutuhan dasar tersebut saling mendukung dan mempengaruhi. Jika salah satu tidak tercukupi maka anak tidak dapat tumbuh kembang dengan optimal, tidak cerdas dan kreatif. Selayaknya orang tua mau dan mampu memenuhi ketiga kebutuhan dasar anak demi pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Siapakah orang tua yang tak menghendaki anaknya bertakwa, sehat, cerdas, mandiri dan kreatif.
Hanya saja tetap diingat bahwa setiap anak adalah individu yang unik, ada yang menonjol dalam kemampuan/kecerdasan tertentu tetapi kurang menonjol pada bidang lain. Ada anak yang mudah diajak bekerja sama tapi ada pula yang sulit. Yang penting kita sebagai orang tua mengajak anak agar mereka menekuni apa yang mereka kuasai atau mencoba bidang yang kurang mereka kuasai dengan rasa senang. Untuk bidang yang kurang dikuasai bukan menjadikan mereka ‘ahli’ tapi setidaknya untuk mencapai kecerdasan yang minimal. Untuk kecerdasan yang mereka kuasai dengan baik, hendaknya orang tua memberikan saluran yang memungkinkan anak mengembangkan kecerdasan tersebut secara maksimal.
Selain itu harus difahami bahwa kecerdasan tidak berdiri sendiri, contoh: anak yang cerdas dalam bidang musikal, membutuhkan keterampilan bodily kinesthetic yang menunjang untuk memainkan alat musik, tapi bila keterampilan motorik halusnya terbatas, cukuplah dia menekuni kegiatan menyanyi. Seorang pilot atau penerbang, adalah pribadi yang punya kecerdasan bodily kinesthetic disertai kecerdasan yang lain seperti kecerdasan logika-matematik, verbal linguistik, visual spasial dan tentunya juga mempunyai kecerdasan interpersonal karena seorang pilot akan berhubungan dengan orang lain seperti mekanik pesawat, pramugari, petugas air traffic control dsb. Lalu kalau seorang Erwin Gutawa atau Purwacaraka yang insinyur tapi juga jago di musik, kecerdasan apa sajakah yang keduanya miliki?

Terakhir, apa yang harus selalu diingat orang tua menyangkut tumbuh kembang seorang anak ?
Tiada lain, bahwa setiap anak adalah individu yang unik. Mereka bukan individu yang sama persis dengan orang tuanya, saudaranya (sekalipun kembar) atau mungkin temannya. Dengan mengingat hal ini orang tua tidak bisa lain memfasilitasi anak bertumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing Dengan mengenal sejak dini potensi atau bakat sang anak, maka anak akan menjadi individu yang berarti bagi dirinya dan orang lain.

Selamat membesarkan buah hati kita dan untuk menggugah kita semua selaku orang tua, simaklah puisi bijak tentang anak berikut ini :

Anak-anak belajar dari apa yang mereka alami…

Jika anak dibesarkan dengan celaan

ia belajar menghina

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan

ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan

ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan

ia belajar menyalahi diri sendiri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi

ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan

ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian

ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan (fairness)

ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman

ia belajar kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan

ia belajar menyenangi diri

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan

ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

(Dorothy Law Nolte,1982)

http://doktermuchlis.blogspot.com/2009/03/stimulasi-dini-pada-anak-kiat.html

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter