Tips Mengatur Keuangan Dengan Financial Planner







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Financial planner atau perencana keuangan seakan kini tidak asing lagi bagi penduduk perkotaan terutama di ibukota negara ini. Profesi di bidang keuangan itu awalnya menimbulkan kerancuan karena seolah profesi perencana keuangan hanya terdapat di perusahaan asuransi jiwa saja.

Belakangan, masyarakat makin faham dan profesi itu juga bisa berlaku di industri keuangan yang lain seperti di perusahaan sekuritas dengan investment management dan perbankan dengan divisi wealth management. Sehingga, sudah sepantasnyalah apabila profesi ini kemudian berkembang di seluruh sektor keuangan. Sebab, financial planning merupakan pendekatan untuk need base analysis, suatu pendekatan bagaimana memenuhi berbagai kebutuhan keuangan dalam hidup ini.

Manusia, selalu ingin memenuhi seluruh kebutuhan keuangan sejak dilahirkan hingga memasuki masa tua nanti. Tapi, tidak banyak orangyang bisa mengatur dan memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk itu, lahirlah para pemikir yang menyebut dirinya sebagai financial planner untuk memecahkan persoalan kebutuhan keuangan bagi suatu keluarga. Mulai dari kebutuhan bagi dana pendidikan anak-anaknya, investasinya, hari pensiunnya maupun warisan ketika ia harus meninggalkan duniayang fana ini.

Namun, dalam pandangan Hendri Hartopo, financial planner independen, perencana keuangan menghadapi kendala ketika seorang financial planner di satu industri keuangan tertentu hanya memasarkan produk yang diluncurkan perusahaannya.

Hendri menyebut misalnya perencana keuangan dari agen asu-ransi karena misinya adalah memasarkan produknya. Sedangkan bagi perusahaan sekuritas, maka si perencana keuangan hanya akan menasehatkan kepada nasabah jenis investasi saja. Demikian juga untuk perbankan. Akhirnya, perencana keuangan hanya mementingkan fokus usahanya.

Seimbang
Sebagai perencana keuangan yang independen, Hendri menjadi seimbang dalam melihat produk keuangan, antara perusahaan asuransi, sekuritas dan perbankan. Sehingga, dia tidak hanya terfokus di satu produk tertentu saja.

Oleh karena nasabah datang dengan segala kebutuhannya, seorang perencana keuangan harus memulai kegiatannya dengan menanyakan kebutuhannya. Jenis kebutuhan apa sajayang diperlukan bagi perencanaan keuangan keluarganya atau bagi bisnisnya.

Seorang perencana keuangan tidak hanya menyarankan kepada produknya saja, melainkan juga strategi bagaimana menggabungkan kebutuhan asuransi dan investasi. Hendri memberikan contoh, A setiap bulan membayar uang pertanggungan Rp5 juta untuk meng-cover kebutuhanyang diperlukan istri dan anak-anaknya jika mendadak dirinya meninggal. Dalam kasus ini, dia memberikan gambaran dari beberapa jenis asuransiyang terdiri dari termlife, wholelife dan indomen, maka yang paling favourable bagi nasabah adalah termlife.

Dengan termlife, berarti nasabah tidak harus membayar seluruh uang pertanggungan sebesar Rp 5 juta, tapi cukup kira-kira 20%-nya saja atau Rp1 juta. Sedangkan sisanyayang sebesar 80% ditabung sendiri dengan cara konsisten dan disiplin sehingga akan menghasilkan nilai investasi yang jauh lebih besar ketimbang semuanya untuk membayar premi. Termlife, seperti halnya asuransi mobil, sehingga kalau tidak terjadi apapun maka uang akan hangus dan ini berlaku setiap tahun. Sehingga, kalaupun tidak terjadi klaim, maka angka 20% adalah relatif kecil dan nasabah tidak rugi.

Strategi itu disebut by term invest the rest. Dia yakin tidak ada strategi lain yang bisa mengalahkannya. “Dengan cara menabungkan sisanya secara konsisten dan disiplin, nothing can’t be done.”

Bagaimanapun juga, perencana keuangan hanya sebatas membantu memecahkan persoalan perencanaan keuangan Anda, sebagian saja. Sebabyang lebih tahu kebutuhan keuangan secara keseluruhan adalah Anda sendiri. Namun, jika Anda menggunakan jasa perencana keuangan, sebaiknya Anda juga mencermati beberapa tips berikut ini:

1. Perencana keuangan yang bisa dipercaya dan jujur. Adakah conflict of interest pada si financial planner itu?
2. Anda juga harus peduli dengan investasi Anda sendiri dan memberikan pembelajaran. Ingatlah kata-kata nobody cares about our money, but ourselves. Jadi, pilihlahfinancial planner yang senantiasa mengajak Anda untuk selalu belajar berinvestasi.
3. Anda harus mengenali risk profilling diri sendiri.

Nah, saatnya bagi Anda untuk mengatur perencanaan keuangan, melalui diri sendiri atau meminta bantuan financial planner.

cyberjob.cbn.net.id

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter