Betapa Mulia Seorang Wanita…







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Adalah suatu dilema besar bagi kaum perempuan di dunia yang menjalani hidup, apakah dia memenuhi hidupnya dengan karir ataukah mengurus keluarga.

Dilema ini tidak pernah memiliki jawaban yang benar-benar jalan tengah. Keduanya berada pada sisi ekstrim. Pertama, perempuan tetap berkarir demi kemajuan intelektual dan sosialnya. Kedua, perempuan mengurus anak demi kemajuan intelektual dan emosi anaknya. Keduanya sulit (kalau tidak bisa disebut tidak dapat) dipilih dua-duanya. Seolah mengharuskan perempuan untuk memilih hanya satu, yang berakibat kehilangan yang lain.

Sebagai manusia, perempuan perlu meningkatkan kadar intelektualitas, sosial, dan emosinya. Perempuan pekerja memang akan lebih banyak mendapat hal-hal tersebut.

Namun sebaliknya, perempuan juga sering merasa bahwa dirinya “bukan disana”, tetapi dirinya seperti tertarik medan magnet untuk mengurus anak. Alhasil, perempuan seringkali luluh hatinya tatkala berhadapan dengan si kecil yang sedang memerlukan kasih sayang yang besar.

Hal lain yang mempengaruhi keputusan perempuan untuk tetap bekerja adalah latar belakang keluarga dan kondisi sosial keluarga. Jika ibunya dulu bekerja dan anak-anaknya baik-baik saja, maka asumsinya ibu bekerja adalah hal yang baik. Tapi sebaliknya, jika perempuan merasa bahwa dengan ibunya bekerja, malah kehidupan rumah tangganya tidak seimbang, maka akan berasumsi bahwa perempuan di rumah adalah lebih baik.

Selain itu, ketika seorang perempuan memasuki dunia pernikahan, karakter si suami akan mempengaruhi keputusan perempuan untuk tetap bekerja atau mengundurkan diri dari pekerjaannya. Seorang suami yang suportif dan adil akan memberikan tempat yang membua perempuan merasa aman untuk meninggalkan pekerjaannya dan memulai mengurus keluarga. Namun sebaliknya, jika seorang suami telah berbuat tidak adil, khususnya dalam penguasaan penghasilan, banyak perempuan yang memilih untuk tetap bekerja dengan alasan demi kebebasan finansial sang perempuan sendiri.

Berdasarkan pengamatan pribadi terhadap beberapa keluarga dengan ibu bekerja dan ibu di rumah, tampaknya ada perbedaan mendasar pada perkembangan anaknya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Tapi kebanyakan, para anak, baik yang masih kanak-kanak atau remaja ataupun yang sudah dewasa, merasa bahwa jika ibunya lebih punya banyak waktu di rumah, itu anak lebih senang.

Anak dengan ibu bekerja biasanya lebih mandiri saat kanak-kanak dan remaja, namun pada saat dewasa mulai terlihat bahwa emosionalnya kurang terpenuhi karena pendekatan emosional dengan orang tua kurang cukup. Alhasil, anak dengan ibu bekerja (diluar) lebih banyak mencari perhatian dan mencoba memenuhi kebutuhan emosionalnya sendiri setelah dewasa dari berbagai sumber, entah itu sumber positif ataukah negatif.

Saya sering melihat anak-anak yang latar belakang ibunya bekerja (waktunya banyak di luar rumah) memiliki watak yang khas. Belum bisa menyebutkannya, namun sudah tampak lebih jelas.

Anak dengan ibu di rumah biasanya lebih manja hingga remaja. Namun ketika menginjak dewasa emosionalnya sudah matang. Ini pun bukan jaminan, tergantung dari ibunya apakah memberikan yang terbaik di rumah ataukah hanya sibuk diluar dengan kegiatan arisan dsb.

Belum lagi jaman sekarang perusahaan menuntut pekerja untuk siap ditempatkan dimana saja di seluruh wilayah cakupan kerjanya. Penempatan lokasi kerja suami yang bukan tanah tempat dibesarkan memang menjadi kendala juga yang mengharuskan perempuan untuk berhenti bekerja (di kantor). Ditambah pula ketiadaan anggota keluarga dan sanak famili yang dapat membantu mengurus anak-anaknya.

Dalam konteks tulisan ini, pembantu bukanlah pilihan untuk mengurus anak. Tidak adil rasanya bagi anak yang begitu sulit dilahirkan ke dunia melalui benih ayah dan rahim ibunya, yang dititipkan oleh Tuhan kepada keduanya, lalu ditinggalkan kepada orang lain yang tidak jelas asal-usulnya. Karena saya berkeyakinan bahwa Tuhan memilih anak itu hadir di keluarga kita karena Tuhan tahu bahwa kitalah yang paling cocok dan paling layak untuk mengurus anak itu. Lalu ketika kita ditunjuk dan diperintahkan (baca: dikaruniai) untuk mengurus seorang anak manusia, adalah tidak amanah jika kita melepaskan tanggung jawab kepengurusannya secara emosional, intelektual, sosial, ruhaniah, dan ragawi (kepada orang lain).

Dua-duanya adalah pilihan tadi sangat-sangat kondisional. Seorang rekan kerja saya adalah seorang ibu dari dua orang anak. Suaminya dulu bekerja di salah satu bank. Namun, kondisi “mengharuskan” sang suami yang mengalah dan keluar kerja demi bisa mengurus anak. Sang suami pun tidak tinggal diam, sekarang menjadi pekerja rumahan yang menghasilkan uang yang lebih banyak daripada dulu waktu dia kerja di bank.

Tantangan besar bagi perempuan yang ingin mengurus anak secara penuh karena harus “mengorbankan” pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dirinya.

http://adampisan.wordpress.com/2009/09/03/betapa-mulia-seorang-wanita/

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter