Mengapa Aku Ikut Berpuasa Ramadhan: Catatan Pastor Wes Magruder







Harga Handphone, Harga Blackberry, Harga Laptop, Harga Mobil, Harga Motor

DAPATKAN BUKU GRATIS DARI BUKUKITA.COM, CARANYA KLIK DISINI!!!

Hari ini aku bangun pukul 4:20 dini hari, makan empat butir telur rebus dan bagel bluberi, minum secangkir kopi dan berdoa. Dan sejak saat itu aku tidak makan ataupun minum.

Sekarang jam menunjukkan pukul 6:26 sore, jadi masih dua jam lagi aku harus menunggu saat berbuka. Inilah hari pertama Ramadhan, bulan suci bagi Muslim di seluruh dunia.

Selama 30 hari, umat Islam berpuasa, tidak makan dan tidak minum sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.

Begitupun aku. Aku putuskan menjalani puasa Ramadhan tahun ini karena sejumlah alasan yang akan kusampaikan dari hari ke hari selama 30 hari ke depan. Aku juga berencana menulis di blogku tentang pengalaman ini. Hari demi hari.

Aku sendiri bukannya tak pernah puasa. Selama hidupku, berbagai cara puasa kulakukan, yang terbaru adalah puasa setiap Jumat sejak matahari terbit hingga jam 3 sore. Puasa tak pernah mudah bagiku –namun harus kuakui, banyak nilai-nilai dan disiplin spiritual yang kupelajari dari puasa.

Kami, umat Kristen Amerika, sama sekali tidak “fasih” berpuasa. Bahkan saat Gereja memerintahkan kami berpuasa kurang lebih selama enam minggu, kami berhasil meminimalkan dan tidak mementingkan aspek spiritual puasa itu. Kami hanya tidak makan coklat atau minum softdrink selama empat puluh hari itu -woohoo, kami berpikir itu bisa mendekatkan kami pada Kristus!

Itulah sebabnya aku selalu takjub dengan puasa “ekstrem” yang dipraktikkan kaum Muslim selama Ramadhan -tidak makan tidak minum sehari penuh, selama tiga puluh hari!

Belakangan ini aku merasa agak jenuh, bahkan merasakan kekeringan dalam kehidupan spiritualku. Aku melakukan segala hal yang normal dan rutin; termasuk pergi ke pengajian Injil. Tapi itu semua terasa tak lagi kaya makna. Aku menemukan diriku terbawa arus berbagai hal yang terjadi di dunia ini, termasuk Konferensi Gereja Metodis, menyangkut status dan nasib keuskupan kami.

Aku menemui sahabat baikku, Shaikh Yaseen, Imam masjid di Plano, yang menjadi bagian dari Persatuan Islam Collin County. kami berteman sudah lama, dan baru-baru ini aku menghadiri acara peletakan batu pertama sayap baru di masjid itu.

Saat kukatakan pada Yaseen keinginanku berpuasa Ramadhan, dia menyeringai dan berkata, “Wah, bagus! Tapi berat, lho!” dengan aksen Inggrisnya yang kental.

Kukatakan padanya bahwa aku tahu itu berat, lalu memintanya untuk memberikan padaku sedikit pemahaman tentang puasa Ramadhan.

Foto: Pastor Wes Megruder berbuka bersamaFoto: Pastor Wes Megruder berbuka bersama
“Ramadhan adalah puasa raga, tentu,” ujar Yaseen. “Namun yang lebih penting ia juga adalah puasa tangan dan kaki dan mata dan pada akhirnya, puasa pikiran. Inilah saatnya kita sadar sepenuhnya akan keberadaan Tuhan dan akibatnya menjadi taat sepenuhnya pula.”

Aku sungguh terusik dengan fakta bahwa “Islam” berarti “kepasrahan/penyerahan diri” dan bahwa beragama Islam berarti berupaya menjalankan kepasrahan kepada Tuhan hari demi hari. Ini sungguh bukan hal baru bagi Umat Kristiani -inilah pendekatan yang juga disampaikan sendiri oleh Yesus. Dia berkata, di Taman Gethsemane ketika itu, “Bukanlah mauku, tapi kehendak-Mu ‘lah yang terjadi.” Yesus juga mengatakan bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di Surga adalah saudaranya.

Inti kedua ajaran Islam maupun Kristen adalah perjalanan untuk mengetahui, dan menghidupi kehendak Tuhan Yang Satu.

Yaseen selanjutnya menjelaskan bahwa selama Ramadhan, umat Islam membaca Al-Quran, berzakat, dan melakukan shalat di masjid setiap hari. Inilah bulan pencarian, kesetiaan, dan cinta pada Tuhan serta sesama. Inilah simbol kehausan manusia akan Tuhan Sejati.

Itu sungguh sesuai dengan dahaga spiritual,yang tengah aku rasakan. Aku menginginkan suatu hentakan terhadap semua inderaku. Dan aku tahu dengan menjalankan puasa Ramadhan, aku akan mengalami kehausan dan kelaparan akan Tuhan itu -Tuhan yang oleh umat Muslim disebut Allah, dan kami umat Kristen memanggilnya Bapa.

Namun ada hal lain yang menjadi alasan mengapa aku mempraktikkan ritual umat Muslim ini. Aku benar-benar ingin menjalankan solidaritas terutama terhadap sahabatku, Yaseen, dan jamaahnya di Plano. Aku ingin mereka tahu, bahwa aku tidak menolak keberadaan mereka dalam komunitas masyarakatku, keberadaan mereka di negaraku. Sesungguhnyalah, aku gembira mereka ada di sini.

Bukan hanya dengan umat Islam di Plano, aku bahkan juga mulai berteman dengan para pengungsi Muslim dari Irak, Somalia, dan Sudan. Sebelum ini aku menulis di blog mengenai Muhammad, seorang pemuda Muslim Sudan yang sering menghadiri acara pengajianku. Pada saat berdoa, dia memanjatkan doa berbahasa Arab, lalu bertanya padaku apakah boleh dia pertama-tama berdoa meminta makanan.

Kini aku ingin membalasnya. Dengan menghindari makan minum selama Ramadhan, aku mulai “mengenakan sepatu Muhammad”, sedikit merasakan kehidupannya, dan juga menangkap komitmen dan ketaatan beragamanya.

Aku tak tahu apakah aku bisa menyayangi Muhammad sampai aku melakukan puasa Ramadhan ini. Aku tak yakin bisa menjadi sahabat sejati Yaseen kecuali aku memasuki kisahnya, pengalaman hidupnya. Aku harus tahu seperti apa rasanya menyembah Tuhan sebagai Muslim. Mungkin dengan cara itu aku bisa belajar menyembah Tuhan sebagai seorang Kristen.

Tentu saja pertama-tama aku harus tahan berpuasa sampai pukul 8:37 malam ini.

*Wes Magruder adalah seorang Pastor Gereja Metodis di Plano, Dallas. Catatan hariannya selama melakukan puasa Ramadhan tahun ini ditulisnya di www.newmethofesto.com

 

Bagaimana Ramalan Harian, Ramalan Zodiak Harian, Ramalan Mingguan, Zodiak Mingguan, Ramalan Zodiak Mingguan Anda?

Cek Harga HANDPHONE, MOTOR dan Harga Lainnya di www.harganya.com!

Facebook

Twitter